Jumat, 12 Agustus 2016

Menuju Pernikahan

Untuk memutuskan akan berencana menikah dalam waktu dekat dengan pasangan, mungkin terlihat begitu mengharukan. Semacam lagi musim, seperti kisah relationship goals-nya anak-anak yang baru beranjak dewasa, lulus es-em-a. 

Tapi, sebenarnya, diluar rasa menyenangkan, justru rasa campur aduk muncul sebesar-besarnya. Bukan karena jadi ragu, tentunya, apalagi sebelum menerima keluarganya datang ke rumah, seorang perempuan pasti sudah memantapkan hati dan meyakinkan diri, bahwa benar dialah orangnya. 
Malah justru, lebih kepada kecemasan terkait budaya pesta pernikahan di Indonesia, yang semakin lama biayanya semakin mencekik.

Dalam darah seorang perempuan, seringkali atau mungkin saja, mengalir buliran rasa gengsi  yang besar. Gaun pengantin, sepatu impian, pesta resepsi, cincin kawin, bahkan sekarang budaya kita bertambah, dengan keberadaan bridesmaid, untuk memenuhi list bahan kebaya yang harus dibeli. 

Tapi, memang begitu sudah jamannya. Jaman dimana kita hidup di era digital, di mama semuanya ada di internet, dishare orang yang satu dan satunya lagi, hingga kita jadi pusing sendiri, 
Banyak harapan mengejar dekorasi hingga upacara adat, sampai lupa hakikat pernikahan itu sendiri. 

Calon pasangan hidup saya, adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengingatkan saya bahwa menikah dengan biaya ratusan juta, meskipun mampu, hanya akan digunakan dalam sehari. Padahal, biaya untuk hari-hari setelah menikah yang tak tentu lamanya, justru malah sering terlupakan. 

Selain dia, ada kerabat, keluarga, hingga, Papa sendiri yang mengingatkan itu. 

Kita sering lupa, bahkan sampai membuat kita bertengkar hebat dengan calon pasangan, calon mertua, atau ibu sendiri, ketika lagi merancang pesta pernikahan. Padahal, modal utama untuk bisa melewati pernikahan hingga tua, adalah kesabaran dan keikhlasan. 

Saya sibuk cari alternatif venue/gedung pernikahan, calon suami sibuk kejar targetnya, sementara orang-tua seringkali ikut andil dan membuat rencana konsep pernikahan yang sejak awal sudah klop antara pasangan, jadi harus tambah ini, tambah itu. 

Ya, itulah sibuknya mengejar resepsi pernikahan.
Sementara, esensi menikah itu sendiri kita suka lupa. 


huhu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar