Rabu, 10 Agustus 2016

Menjadi Wartawan

Sebuah percakapan sore itu, di atas ojek, ketika si abang bertanya saya bekerja di sana sebagai apa?

"Reporter bang"
"Abis ngeliput apa gimana mbak?"
"Iya bang"
"Liputan apaan mbak tadi?"
"Liputan gubernur bang"
"Ooh mbaknya jurnalis ya?"
"Hehe iya bang"

Kemudian, si abang bertanya dan meminta pendapat tentang berita surat cuwitan terpidana mati freddy budiman soal adanya dugaan bisnis narkoba yg dijalaninya selama ini, juga sbnrnya menarik pejabat tinggi di lingkungan penegak hukum, yang disebar Haris Azhar ke media.

Si abang, menyangka kalau pempimpin Kontras itu wartawan. "Itu disebarin sama wartawan ya mbak"

Saya bilang,
"Bukan bang, yg nyebarinnya Ketua LSM. Kontras. LSM buat orang-orang hilang akibat tindak pelanggaran HAM & tindak kekerasan, melalui media"

"Itu semua bener atau gaknya cuma Freddy budiman sama Tuhan yg tau"

😂😂

Berdiskusi soal se-nge-trend-itu dg mamang gojek sambil menikmati keburu-burunya utk bisa cepat-cepat berangkat ke Bandung.

Tapi, bukan itu poinnya.

Poinnya adalah,
Saya bangga sekali bisa disebut sebagai jurnalis, dan juga dengan bangga bisa mengaku, bahwa, iya, saya seorang jurnalis.

Akhirnya, setelah sekian lama saya bisa merasa cocok dan cukup untuk mengaku sebagai jurnalis. Meski selama dua tahun terkahir ini saya juga wartawan, tapi mengulik permasalahan politik, menunggu narasumber yg meripakan pejabat politik&pemerintah berjam-jam, membuat saya merasa benar-benar jadi wartawan!

Ya, ada kebanggaan dalam hati ketika memperkenalkan diri sebagai jurnalis. Sebuah profesi yang, saya rasa tak bisa dianggap enteng. Profesi bergengsi, yang meskipun gajinya tidak seberapa, tapi manfaat dan efek keberadaannya menyebar bagi seluruh kalangan, seluruh agama, seluruh budaya, semua orang, tidak peduli, kaya atau miskin,

setiap manusia, membutuhkan informasi. 😊

...

Akankah saya terus menjadi jurnalis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar