Sabtu, 13 Agustus 2016

Jadi Wartawan Tempel Ahok

Jadi jurnalis itu memang banyak untungnya, tantangannya. Bisa jalan-jalan gratis kelilinh Indonesia dan melihat keindahan alam dibanyak lokasi, salah satunya.

Tapi, ada satu hal yang paling menyenangkan dibanding semua kenyamanannya, yaitu bisa dekat dengan narasumber.

Baru dua bulan terakhir, sejak sekitaran bulan puasa, saya dipercaya Koordinator Liputan untuk dicoba diembbeded di Kantor Gubernur DKI Jakarta, dengan agenda "tempel ahok". Jadilah tiap hari, saya ketemu orang yang tiap hari kalau ngomong ngegas terus itu.
Dulu, saya sempat takut salah nanya sama beliau. Karena bisa-bisa disemprot. Tapi, semakin lama saya ga takut lagi untuk nyemprot dia balik. Nanya banyak. Soal pilkada salah satunya.

Sampai-sampai sekarang kalau bikin naskah soal pilkada dari dia, saya udh hapal di luar kepala. 😂😂

Tapi di luar itu semua, yang paling menyenangkan adalah kalau dia mau jawab pertanyaan-pertanyaan dengan ramahnya seperti teman dekat. Di awal pagi dia datang dari jauhpun, dia sudah melempar senyum. Kata orang sih dia selalu hapal muka-muka wartawan yang bertemu dengannya setiap hari.

Misalnya, ketika lagi di luar, dan semua orang lagi sibuk minta foto bareng, saya di depannya bertanya banyak.

"Pak hari ini kemana?"
"Aku mau pulang, banyak disposisi yang harus aku kerjain"
"Oh berarti ke kantor?"
"Enggak, enggak, aku pulang aja kerjain di rumah. Banyak banget tau gak kerjaan disposisi aku, sekoper. (sambil ketawa, terus sambil terus sibuk foto bareng sama orang-orang)
"Banyak banget kerjaan aku sekopeer aku bawa pulang, habis itu paling ke undangan, sama ke twilligh konsernya Adi MS entar malem" (dia masih sibuk foto bareng)
"Jadi ga ada ketemu sama partai ya pak?"
"Engga ga ada, banyak kerjaan sih, paling ke undangan aja."
"Ke undangan dari aku dateng ya pak"
"Iya boleh, nanti aku agenda dateng, asal di Jakarta"
"Yah, aku nikah di Bandung Pak"
"Waah, di Bandung?" Terus dia ketawa. Daaaan! Dia ngobrol seakrab teman dengan saya, padahal dia lagi sibuk foto bareng sama orang lain.

See?
Menyenangkannya jadi jurnalis adalah, se-gontok-gontokan & sekesal-kesalnyanya kita dg narasumber, kita bisa tetap menjadi perhatiannya meski dia sedang sibuk, adalah suatu kebahagiaan.

Karena, salah satu pencapaian seorang jurnalis adalah bisa dekat dengan narasumbernya. Meskipun saya belum sedekat itu dengan Ahok, tapi ini juga merupakan suatu pencapaian buat saya.

...

Naaah, ini niiihhh yang pasti bikin saya susah move on, kalau nanti pindah kerja dan pindah ke Bandung. heart still love being journalist. But, logic and whole life need me choose the other one..

*masih berdoa & berusaha pindah kerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar