Kamis, 18 Agustus 2016

Bahwa menikah itu

Benar sekali.

Bahwa menikah itu bukan hanya sekedar menyatukan  dua orang dalam satu rumah saja. Tapi lebih dari itu, sesungguhnya menikah hanya menyatukan permasalahan yang ada untuk diselesaikan bersama.

Ada pasangan yang memilih menikah hanya karena saling jatuh cinta tapi mereka harus berpisah ketika tidak lagi bisa mempertahankan perasaan itu.  Padahal menikah bukan hanya perkara jatuh cinta, bercumbu, berpelukan, dan tidur bersama. Melainkan lebih dari itu, menikah justru merusak segala rencana kehidupan sendiri karena harus berbagi peran dan porsi dengan orang lain.

Seringkali, kita merasa ingin menikah. Tanpa tau mengapa kita ingin menikah dengannya. Ingin menikah, tanpa tau mengapa kita memilh dirinya. Semuanya, hanya berdasarkan pada rasa cinta yang telah kita miliki.

Padahal,
rasa cinta bisa hilang.
rasa suka bisa berubah jadi bosan.
rasa butuh bisa jadi tak peduli.
rasa memiliki bisa jadi ingin membuang jika rusak.

Mencintai seseorang dan sebaliknya, tidak menjamin kita berada pada posisi yang aman setiap saatnya.

Mungkin kamu, besok, lusa, atau bulan depan, bisa jadi berubah menjadi hanya sekedar kenangan angan-angan masa lalu, yang sempat dielu-elukan.

Mencintai memang manis,
Tapi tak ada yang selembut melindungi diri dari berbagai godaan, saat hari-hari penting itu, terjadi.

Sabtu, 13 Agustus 2016

Jadi Wartawan Tempel Ahok

Jadi jurnalis itu memang banyak untungnya, tantangannya. Bisa jalan-jalan gratis kelilinh Indonesia dan melihat keindahan alam dibanyak lokasi, salah satunya.

Tapi, ada satu hal yang paling menyenangkan dibanding semua kenyamanannya, yaitu bisa dekat dengan narasumber.

Baru dua bulan terakhir, sejak sekitaran bulan puasa, saya dipercaya Koordinator Liputan untuk dicoba diembbeded di Kantor Gubernur DKI Jakarta, dengan agenda "tempel ahok". Jadilah tiap hari, saya ketemu orang yang tiap hari kalau ngomong ngegas terus itu.
Dulu, saya sempat takut salah nanya sama beliau. Karena bisa-bisa disemprot. Tapi, semakin lama saya ga takut lagi untuk nyemprot dia balik. Nanya banyak. Soal pilkada salah satunya.

Sampai-sampai sekarang kalau bikin naskah soal pilkada dari dia, saya udh hapal di luar kepala. 😂😂

Tapi di luar itu semua, yang paling menyenangkan adalah kalau dia mau jawab pertanyaan-pertanyaan dengan ramahnya seperti teman dekat. Di awal pagi dia datang dari jauhpun, dia sudah melempar senyum. Kata orang sih dia selalu hapal muka-muka wartawan yang bertemu dengannya setiap hari.

Misalnya, ketika lagi di luar, dan semua orang lagi sibuk minta foto bareng, saya di depannya bertanya banyak.

"Pak hari ini kemana?"
"Aku mau pulang, banyak disposisi yang harus aku kerjain"
"Oh berarti ke kantor?"
"Enggak, enggak, aku pulang aja kerjain di rumah. Banyak banget tau gak kerjaan disposisi aku, sekoper. (sambil ketawa, terus sambil terus sibuk foto bareng sama orang-orang)
"Banyak banget kerjaan aku sekopeer aku bawa pulang, habis itu paling ke undangan, sama ke twilligh konsernya Adi MS entar malem" (dia masih sibuk foto bareng)
"Jadi ga ada ketemu sama partai ya pak?"
"Engga ga ada, banyak kerjaan sih, paling ke undangan aja."
"Ke undangan dari aku dateng ya pak"
"Iya boleh, nanti aku agenda dateng, asal di Jakarta"
"Yah, aku nikah di Bandung Pak"
"Waah, di Bandung?" Terus dia ketawa. Daaaan! Dia ngobrol seakrab teman dengan saya, padahal dia lagi sibuk foto bareng sama orang lain.

See?
Menyenangkannya jadi jurnalis adalah, se-gontok-gontokan & sekesal-kesalnyanya kita dg narasumber, kita bisa tetap menjadi perhatiannya meski dia sedang sibuk, adalah suatu kebahagiaan.

Karena, salah satu pencapaian seorang jurnalis adalah bisa dekat dengan narasumbernya. Meskipun saya belum sedekat itu dengan Ahok, tapi ini juga merupakan suatu pencapaian buat saya.

...

Naaah, ini niiihhh yang pasti bikin saya susah move on, kalau nanti pindah kerja dan pindah ke Bandung. heart still love being journalist. But, logic and whole life need me choose the other one..

*masih berdoa & berusaha pindah kerja.

Jumat, 12 Agustus 2016

Menuju Pernikahan

Untuk memutuskan akan berencana menikah dalam waktu dekat dengan pasangan, mungkin terlihat begitu mengharukan. Semacam lagi musim, seperti kisah relationship goals-nya anak-anak yang baru beranjak dewasa, lulus es-em-a. 

Tapi, sebenarnya, diluar rasa menyenangkan, justru rasa campur aduk muncul sebesar-besarnya. Bukan karena jadi ragu, tentunya, apalagi sebelum menerima keluarganya datang ke rumah, seorang perempuan pasti sudah memantapkan hati dan meyakinkan diri, bahwa benar dialah orangnya. 
Malah justru, lebih kepada kecemasan terkait budaya pesta pernikahan di Indonesia, yang semakin lama biayanya semakin mencekik.

Dalam darah seorang perempuan, seringkali atau mungkin saja, mengalir buliran rasa gengsi  yang besar. Gaun pengantin, sepatu impian, pesta resepsi, cincin kawin, bahkan sekarang budaya kita bertambah, dengan keberadaan bridesmaid, untuk memenuhi list bahan kebaya yang harus dibeli. 

Tapi, memang begitu sudah jamannya. Jaman dimana kita hidup di era digital, di mama semuanya ada di internet, dishare orang yang satu dan satunya lagi, hingga kita jadi pusing sendiri, 
Banyak harapan mengejar dekorasi hingga upacara adat, sampai lupa hakikat pernikahan itu sendiri. 

Calon pasangan hidup saya, adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengingatkan saya bahwa menikah dengan biaya ratusan juta, meskipun mampu, hanya akan digunakan dalam sehari. Padahal, biaya untuk hari-hari setelah menikah yang tak tentu lamanya, justru malah sering terlupakan. 

Selain dia, ada kerabat, keluarga, hingga, Papa sendiri yang mengingatkan itu. 

Kita sering lupa, bahkan sampai membuat kita bertengkar hebat dengan calon pasangan, calon mertua, atau ibu sendiri, ketika lagi merancang pesta pernikahan. Padahal, modal utama untuk bisa melewati pernikahan hingga tua, adalah kesabaran dan keikhlasan. 

Saya sibuk cari alternatif venue/gedung pernikahan, calon suami sibuk kejar targetnya, sementara orang-tua seringkali ikut andil dan membuat rencana konsep pernikahan yang sejak awal sudah klop antara pasangan, jadi harus tambah ini, tambah itu. 

Ya, itulah sibuknya mengejar resepsi pernikahan.
Sementara, esensi menikah itu sendiri kita suka lupa. 


huhu.

Rabu, 10 Agustus 2016

Menjadi Wartawan

Sebuah percakapan sore itu, di atas ojek, ketika si abang bertanya saya bekerja di sana sebagai apa?

"Reporter bang"
"Abis ngeliput apa gimana mbak?"
"Iya bang"
"Liputan apaan mbak tadi?"
"Liputan gubernur bang"
"Ooh mbaknya jurnalis ya?"
"Hehe iya bang"

Kemudian, si abang bertanya dan meminta pendapat tentang berita surat cuwitan terpidana mati freddy budiman soal adanya dugaan bisnis narkoba yg dijalaninya selama ini, juga sbnrnya menarik pejabat tinggi di lingkungan penegak hukum, yang disebar Haris Azhar ke media.

Si abang, menyangka kalau pempimpin Kontras itu wartawan. "Itu disebarin sama wartawan ya mbak"

Saya bilang,
"Bukan bang, yg nyebarinnya Ketua LSM. Kontras. LSM buat orang-orang hilang akibat tindak pelanggaran HAM & tindak kekerasan, melalui media"

"Itu semua bener atau gaknya cuma Freddy budiman sama Tuhan yg tau"

😂😂

Berdiskusi soal se-nge-trend-itu dg mamang gojek sambil menikmati keburu-burunya utk bisa cepat-cepat berangkat ke Bandung.

Tapi, bukan itu poinnya.

Poinnya adalah,
Saya bangga sekali bisa disebut sebagai jurnalis, dan juga dengan bangga bisa mengaku, bahwa, iya, saya seorang jurnalis.

Akhirnya, setelah sekian lama saya bisa merasa cocok dan cukup untuk mengaku sebagai jurnalis. Meski selama dua tahun terkahir ini saya juga wartawan, tapi mengulik permasalahan politik, menunggu narasumber yg meripakan pejabat politik&pemerintah berjam-jam, membuat saya merasa benar-benar jadi wartawan!

Ya, ada kebanggaan dalam hati ketika memperkenalkan diri sebagai jurnalis. Sebuah profesi yang, saya rasa tak bisa dianggap enteng. Profesi bergengsi, yang meskipun gajinya tidak seberapa, tapi manfaat dan efek keberadaannya menyebar bagi seluruh kalangan, seluruh agama, seluruh budaya, semua orang, tidak peduli, kaya atau miskin,

setiap manusia, membutuhkan informasi. 😊

...

Akankah saya terus menjadi jurnalis?