Sabtu, 31 Mei 2014

DREAMS COME TRUE :')

HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAY :')

I'AM BACK WITH ALL MY NORMAL BRAIN.

Halo apakabar dunia bloging yang sepi----
sudah lama saya tidak bercerita tentang pengalaman saya, kangeeeeennnn.

*PELUUKK ERAT KENCANG TAK INGIN LEPAS*

Okay, di siang hari ini, di depan komputer nomor 12.

Saya ingin bercerita tentang Dreams Come True.

Sebenarnya cerita ini sudah lama ingin saya tulis, semenjak November tahun lalu. Tapi sayang, hati dan logika ini sedang bergulat dengan sepersekian emosi dan ego yang sampai beberapa hari kemarin belum dewasa, belum tersadar.

Saya pernah menulis, pernah berbicara, mengenai masa depan, mengenai cita-cita, dan mengenai hal-hal yang ingin saya capai di umur yang banyak orang bilang sudah seharusnya 'dewasa'. Itu semua tentang mimpi indah yang pernah saya gantungkan dilangit, pernah saya lempar ke udara, pernah saya titipkan disana. Di tempat yang jauh yang begitu indah dan selalu merangsang mata batin.

Saya pernah berbicara mengenai banyak keinginan menjadi seorang jurnalis.
saya ingat betul, yang paling teringat adalah keinginan di masa kelas dua SMA, saat seorang ibu guru bertanya. Dan di depan teman-teman kelas, didalam sebuah diskusi perkenalan;

"Hello, my name Annisa Vikasari, but you can call me Vika. I came from X-4, and I wanna be Journalist"

begitu mulia cita-cita itu ya?
Sebuah pekerjaan luar biasa keren yang... tidak semua orang bisa mengerjakannya.
Dan.. sekarang saya tau, pekerjaan menjadi jurnalis memang benar-benar luar biasa. Dan memang hanya orang-orang hebat yang bisa menjalani ini sampai benar-benar selesai.

Lalu kenapa saya bisa tau?

Ini;
perjalanan panjang saya di sebuah universitas swasta di Bandung mengantarkan saya ke dunia ini. Dunia yang hampir kebanyakan orang menjauhinya setelah mengenyam ilmunya.
Saya masih idealis, masih ingin merasakan bagaimana rasanya.
Taukah? cita-cita mulia ini; saya benar benar penasaran.

Saya pernah hampir meninggalkannya; ketika saya mendapatkannya. di awal perjalanan saat saya mendapatkan pengumuman lulus itu. Pernah hampir meninggalkannya demi seseorang yang saya ingin membuatnya yakin bahwa dia jauh lebih baik dari pada saya. demi seseorang yang saya ingin dia percaya dengan dirinya bahwa dia jauh lebih baik dari pada saya, dan dia pantas menjadi lebih baik, karena dia memang begitu. Dan itu terbukti sekarang, dia memang jauh lebih baik karena selalu mendukung. Meskipun pada akhirnya hubungan itu sudah takdirnya harus berakhir.

Tapi untunglah Tuhan baik.
Karena dulu membuat saya keras kepala, tetap egois dengan semua keinginan saya.
Tetap keukeuh dengan keinginan seperti ini, merasakan bekerja di media; menjadi seorang jurnalis. Ya, sebuah cita-cita yang bisa saja mengantarkan saya ke sana, Barcelona. Ke sana, ke tempat-tempat yang luar biasa, yang bisa saja mempertemukan saya dengan orang-orang yang nyatanya, jauh lebih luar biasa pula.

Merasakan cita-cita ini, sampai disini, di Jakarta. meninggalkan banyak masa lalu; mengorbankan perasaan; mengorbankan ego; demi kebahagian kami waktu itu. Meninggalkan mama, papa, berpikir keras akan merasakan kesulitan untuk bertemu, merasakan rindu yang tak akan pernah habis. Merasakan hidup yang begitu sulit, yang keras. Dan, hidup memang benar-benar keras.

Saya sekarang bekerja, sebenarnya saya sekolah. di Sebuah TV. menjadi reporter. bukan jurnalis, karena saya belum benar-benar merasa jadi jurnalis; saya belum pergi meliput perang, meliput presiden, meliput tokoh-tokoh dunia.
Di sebuah kantor yang banyaaak sekali orang ingin masuk kesini. Ingin berkarya disini; di tempat ini. Di gd. The East Lt. 27 & 28, Mega Kuningan Jakarta Selatan. Disinilah saya bekerja.

Sebuah hadiah luar biasa dari Tuhan atas semua perjuangan saya; tetap semangat mengejar impian, meski sempat jatuh sakit ke dalam jurang yang paling menyakitkan. (lebay) :p

Saya sudah menjadi seorang News Reporter sekarang; berkarya dengan berbagai liputan dan banyak tempat hebat yang sudah saya kunjungi. Ini benar-benar mimpi jadi kenyataan. Bangga bukan?
Seberuntung ini Tuhan membuat hidup saya; dan saya benar-benar bersyukur.

Tapi terkadang, tak semua orang mengerti.
Ada hal lain yang harus diperjuangkan; bukan cuma cita-cita, pekerjaan. Hidup ini tak sesempit itu; bukan hanya tentang setelah lulus kuliah lalu kita bekerja. Hidup ini tak semudah itu.

Hidup ini adalah pilihan.
Dan nanti akan orang rasakan, bagaimana rasanya.

Pernah saya berpikir semudah itu, beberapa hari yang lalu juga masih.
Bahwa cinta juga ternyata tak sesempit itu; bukan hanya saya dan kamu. ternyata ada banyak orang disana, saya yang kedua, saya yang ketiga, keempat, kelima. kamu yang kedua, ketiga, keempat, kelima.

Ternyata dunia tak pernah sesempit itu. Tuhan membuatnya begitu luaaaaaaaaaas. itulah kenapa banyak pilihan, sehingga kita tak perlu takut kehabisan.

Cita-cita sebagai reporter, saya sudah dapat. Saya sekarang adalah reporter ;')
Dan tak ada yang tau seberapa besar bahagianya menjadi seperti sekarang.
dan sekarang saya lebih tenang;

Tak ada yang benar-benar menjadi saya, jadi tak perlu takut orang akan bilang apa.
Saya adalah saya yang sekarang; seorang lulusan Jurnalistik yang sekarang sudah menjadi reporter.

Adakah orang yang lebih bahagia dari saya sekarang? :)


Lagi jadi reporter gaul yg ngasih informasi tempat beli buku kece di Jakarta



lagi masak bumbu toge goreng di Jakarta *Jurnalis Kuliner*

Ayooo baca buku ke kampung buku! *Jurnalisme Traveling*

Mencicipi legenda sop buntut Jakarta, *Jurnalisme kuliner*

refreshing ke taman bunga nusantara *Jurnalisme traveling*

Jalan-jalan, wisata air di taman Matahari *Jurnalisme Traveling*

Mengintip profil pedagang sayuran di waktu malam *Human Interest, dokumenter*

merasakan jadi penjual ikan bersama bu Mara, pengalaman malam hari yang seruuu. *Human Interest, dokumenter*

Kesedihan berbulan-bulan, hancurnya hati ini karena kehilangan orang tersayang, semua Tuhan bayar lunas melalui semua... perjalanan menjadi jurnalis, dan kenyataan-kenyataan hebat, yang baru saya sadari. Kereeen! :)


THANK GOD, NOW, I'M JOURNALIST
AND 
THANK GOD FOR THE REALITY. 




*perjalanan masih panjang, masa depan, biar waktu yang membuktikan apakah saya di depan sana tetap menjadi seorang jurnalis, atau, lebih hebat lagi; ibu rumah tangga*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar