Sabtu, 09 Juni 2012

Bahagia itu Penting



"Kalau minta maaf berguna, lalu buat apa ada polisi?" ~ Tomingse.

Disela-sela penungguan exporting video jurnalisme film, yang yaaaah kamu tau itu begitu menyebalkan karena lebih dari tiga jam kami sekelompok hanya bisa menunggu tanpa kepastian di laboratorium yang tiba-tiba pada hari itu penuh sesak, sampai AC yang baru ditempel itu juga jadi seperti tidak  berguna sama sekali,  kalimat itu tiba-tiba muncul. 

Sudah satu bulan mood menulis hilang. Total, biarpun seringkali sepenggal kata-kata manis muncul ditengah malam menjelang subuh. Tidak tau apa penyebabnya, tapi tentang Mei kemarin, saya tidak punya pendapat apa-apa.

Menulis biasanya membuat saya sedikit lebih lega. Tapi beda dengan sekarang. Kenapa menulis malah membuat saya deg-degkan? Perasaan jadi tidak karuan, atau memang sedang tidak karuan? :|
Saya sekarang sedang duduk di bawah meja komputer-bukan-I'mac di Lab Avikom, masih menunggu, kali ini menunggu proses burning. Suasana agak gelap, sendiri, biarpun di luar dari meja ini, masih banyak orang. Masih ada teman-teman yang sama-sama gelisah menunggu proses ini selesai. Semua orang yang melihat saya disini bertanya, “Vika, ngapain kamu disitu?” | Saya: “Lagi nulis hehe”

Saya tidak tau rasa gelisah ini karena apa. Apa yang dirasakan oleh teman-teman juga gelisah yang seperti apa, saya juga tidak tau. Yang saya tau, saya ingin keadaan yang sekarang sedang terjadi-kepada-saya berubah jadi baik.

Mayang bilang, saya tidak perlu menyakiti diri sendiri dengan terlalu dalam memikirkan tentang suatu hal. Dia juga bilang, kalau setiap orang itu butuh untuk memiliki rahasia dan kita harus menghargai itu. Tapi apa daya. Saya sendiri sekarang tidak bisa keluar dari situasinya. Kondisinya saya benci, tapi ada harapan didalam sana yang saya tunggu, biarpun mungkin saja, harapan yang saya tunggu itu akan hilang dalam waktu dekat, dan karena itu saya harus menyiapkan tempat untuk menampung rasa kecewa yang yaaaah, cukup menyedihkan.

“Kalau ingin menyerah, aku sudah melakukannya dari dulu.” Itu kata Tomingse pada Sancai. 

Ehm, tiba-tiba kutipan itu juga muncul begitu saja. Saya pernah menyiratkannya satu kali. Dan.. (tidak mau diteruskan).

Keadaannya sudah parah sekali. Sepertinya kalau harus diperban, mungkin ini sudah lapisan ke sepuluh. Tapi ini lebay. Kenyataannya, biarpun lampu tiba-tiba berubah jadi warna kuning (kemungkinan yang tidak pernah saya bayangkan), hari ini saya masih bisa tertawa terbahak-bahak. Biarpun setelah itu, saya jadi ingin ada dikamar, didalam selimut, dan pecah.



Kenyatannya adalah,
“Kita akan jadi bahagia jika bagaimana? Lakukanlah supaya kita bahagia, karena itu alasan mengapa kita hidup. Setidaknya, dengan bahagia, kita bisa tersenyum untuk orang lain.  Senyum bisa memberikan energi positif untuk mereka, dan itu berarti secara tidak langsung orang lain juga akan ikut bahagia, jika kita bahagia.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar