Jumat, 29 Juni 2012

~

"Kesabaran berbuah manis"

Rasakan saja perasaanmu sendiri. Batasi ia agar tidak meluap-luap. Tidak luber hingga tak tau harus ditampung dimana. Tidak berantakan hingga tak tau bagaimana harus membereskannya.
Kita memang perlu berharap, tapi harapan tidak selamanya menjadi kenyataan.
Tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki.
Kalau kesalahan kemarin merusak apa yang kamu rasakan, maaf.
Kalau kesalahan kemarin merusak apa yang kamu harapkan, rasakan.
Setiap tindakan selalu ada resikonya

Semoga apa yang diusahakan mampu memberikan kebahagiaan bagi mereka yang mau berbuat ~~


Sabtu, 23 Juni 2012

Aku bukan Rumah

Baginya aku bukan rumah
Ada rumah lain yang ia menuju kesana
aku mungkin hanya halteu, atau sekedar terminal
tempat ia mencari jalan pulang.

Setelah bertemu dengan persimpangan, 
aku harus sadar bahwa aku cuma figuran
kemudian melihatnya berjalan,
berpelukan dengan kenangan lama
yang ia tinggalkan ke perantauan

mungkin akan ada saatnya dia rindu
malam-malam itu hanya kamuflase
dipikirannya hanya ada rumah,
rumah dan itu bukan aku.

Jika aku bukan rumah baginya,
Lalu aku rumah bagi siapa?


/menunggu..

Kamis, 21 Juni 2012

Lengkap


"Bahagialah dengan apa yang kamu miliki. Jangan melepasnya hanya karena rasa takut. Kamu mungkin tak akan mendapatkannya kembali" ~ @pepatah


Ada keinginan dan harapan yang harus diperjuangkan untuk bisa dimiliki. Serta ada pula keinginan dan harapan yang kita hanya bisa memperjuangkannya lewat mimpi.

Tapi, suatu kejadian tidak akan menjadi mustahil jika kita percaya kita mampu dapat. Jika kita percaya Tuhan mau menolong. Jika kita percaya kita pantas. Jika kita percaya kita bisa menjaganya. Jika kita percaya kita membutuhkannya. Dan Jika kita mau mengusahakannya.

Berbahagialah jika memiliki kesempatan, meskipun kesempatan datang berkali-kali.
Tapi kita harus terus mencoba, karena Tuhan selalu menghendaki kita belajar dari kesalahan. Jadi berusaha saja sampai benar-benar tidak mampu, berjuang sampai benar-benar lumpuh, supaya Tuhan yakin kita betul-betul meminta.


Tuhan memang sudah mengatur semuanya, tapi Tuhan menghendaki kita berusaha menentukan hidup kita sendiri.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka"  QS 13:11


Tapi jika yang terjadi tidak sesuai harapan, yakin dan berbahagialah karena Tuhan sudah menyimpankan yang terbaik untuk pengusaha yang terbaik.


Tuhan itu lengkap, untuk itu kenapa Ia menciptakan bahagia bagi yang berhasil, serta menciptakan ikhlas dan sabar bagi yang gagal, bagi yang menangis..

"Nikmat Tuhan yang mana yang akan kau dustakan?"

Rabu, 20 Juni 2012

Firehouse - I Live My Life For You



You know you're everything to me
And I could never see, the two of us apart
And you know I give myself to you
And no matter what you do, I promise you my heart

I've built my world around you and I want you to know
I need you, like I've never needed anyone before

I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you

I dedicated my life to you
You know that I would die for you
But our love would last forever
And I will always be with you
And there is nothing we can't do
As long as we're together

I just can't live without you, and I want you to know
I need you like I've never needed anyone before

Wow, yeah I live my life for you





Sabtu, 09 Juni 2012

Bahagia itu Penting



"Kalau minta maaf berguna, lalu buat apa ada polisi?" ~ Tomingse.

Disela-sela penungguan exporting video jurnalisme film, yang yaaaah kamu tau itu begitu menyebalkan karena lebih dari tiga jam kami sekelompok hanya bisa menunggu tanpa kepastian di laboratorium yang tiba-tiba pada hari itu penuh sesak, sampai AC yang baru ditempel itu juga jadi seperti tidak  berguna sama sekali,  kalimat itu tiba-tiba muncul. 

Sudah satu bulan mood menulis hilang. Total, biarpun seringkali sepenggal kata-kata manis muncul ditengah malam menjelang subuh. Tidak tau apa penyebabnya, tapi tentang Mei kemarin, saya tidak punya pendapat apa-apa.

Menulis biasanya membuat saya sedikit lebih lega. Tapi beda dengan sekarang. Kenapa menulis malah membuat saya deg-degkan? Perasaan jadi tidak karuan, atau memang sedang tidak karuan? :|
Saya sekarang sedang duduk di bawah meja komputer-bukan-I'mac di Lab Avikom, masih menunggu, kali ini menunggu proses burning. Suasana agak gelap, sendiri, biarpun di luar dari meja ini, masih banyak orang. Masih ada teman-teman yang sama-sama gelisah menunggu proses ini selesai. Semua orang yang melihat saya disini bertanya, “Vika, ngapain kamu disitu?” | Saya: “Lagi nulis hehe”

Saya tidak tau rasa gelisah ini karena apa. Apa yang dirasakan oleh teman-teman juga gelisah yang seperti apa, saya juga tidak tau. Yang saya tau, saya ingin keadaan yang sekarang sedang terjadi-kepada-saya berubah jadi baik.

Mayang bilang, saya tidak perlu menyakiti diri sendiri dengan terlalu dalam memikirkan tentang suatu hal. Dia juga bilang, kalau setiap orang itu butuh untuk memiliki rahasia dan kita harus menghargai itu. Tapi apa daya. Saya sendiri sekarang tidak bisa keluar dari situasinya. Kondisinya saya benci, tapi ada harapan didalam sana yang saya tunggu, biarpun mungkin saja, harapan yang saya tunggu itu akan hilang dalam waktu dekat, dan karena itu saya harus menyiapkan tempat untuk menampung rasa kecewa yang yaaaah, cukup menyedihkan.

“Kalau ingin menyerah, aku sudah melakukannya dari dulu.” Itu kata Tomingse pada Sancai. 

Ehm, tiba-tiba kutipan itu juga muncul begitu saja. Saya pernah menyiratkannya satu kali. Dan.. (tidak mau diteruskan).

Keadaannya sudah parah sekali. Sepertinya kalau harus diperban, mungkin ini sudah lapisan ke sepuluh. Tapi ini lebay. Kenyataannya, biarpun lampu tiba-tiba berubah jadi warna kuning (kemungkinan yang tidak pernah saya bayangkan), hari ini saya masih bisa tertawa terbahak-bahak. Biarpun setelah itu, saya jadi ingin ada dikamar, didalam selimut, dan pecah.



Kenyatannya adalah,
“Kita akan jadi bahagia jika bagaimana? Lakukanlah supaya kita bahagia, karena itu alasan mengapa kita hidup. Setidaknya, dengan bahagia, kita bisa tersenyum untuk orang lain.  Senyum bisa memberikan energi positif untuk mereka, dan itu berarti secara tidak langsung orang lain juga akan ikut bahagia, jika kita bahagia.”