Minggu, 15 April 2012

Manusia menilai Manusia #2

"Tidak ada sepasang manusiapun dengan pemikiran yang sama di dunia ini.
Setiap orang punya prinsip hidupnya masing-masing dan kita semua harus saling menghargai perbedaan itu."

Diam itu tidak selalu berarti bodoh, bukan berarti tidak mengerti, atau bukan hanya berarti tidak mau tau. Ada saatnya seseorang diam karena sedang membaca keadaan, untuk mengerti lebih banyak mengenai sesuatu lebih dari seberapa orang lain mengerti. Atau, adakalanya seseorang diam karena mengetahui sesuatu lebih dari apa yang orang lain tau.

Kedewasaan bukan hanya dinilai dari bagaimana dia punya perilaku, tapi juga dari bagaimana dia berpikir, dan bagaimana dia merasakan. Dan itu jadi berbeda dengan, bukan saatnya orang lain merasa dewasa dengan merasa mengerti seharusnya orang lain itu bagaimana, atau orang lain itu harusnya melakukan apa.

Orang itu lebih banyak tidak sadar seberapa dia sudah merusak mood orang lain, atau merasa sok pintar daripada orang lain, atau, merasa lebih mengerti daripada orang lain. Manusia itu lebih sering tidak sadar bahwa ia sudah bicara banyak seolah-olah ia sempurna, padahal sama sekali tidak.

Tiap orang memiliki pandangan masing-masing, dan perbedaan itu harus diterima.

ini tulisan mengenai Manusia menilai Manusia #2
dan seperti dulu saya pernah bilang, manusia ketika sedang menilai sesuatu cenderung merasa benar sendiri. Termasuk tulisan ini juga.

Saya paling sering mengejek orang lain, dan saya tau itu salah. Mangkanya saya selalu menyertainya dengan tawaan, berharap orang lain mengerti kalau itu hanya bercanda.
Saya juga paling sering men-judge seseorang, tapi mudah-mudahan judge itu tidak membuat orang lain kesal. 

Jadi ingat beberapa hari kemarin, setelah mengobrol dengan seorang teman.
Dan saya bisa menarik kesimpulan atas obrolan tersebut begini :

Bahwa setiap orang punya kelebihan masing-masing dibalik ketidaksempurnaannya. Kelebihan yang tidak dimiliki orang lain yang selama ini seringkali menertawainya, men-judge kebodohannya, atau mengejek kekurangannya. 

Satu hal, titip umbar prinsip, buat saya, ada 4 cara untuk menikmati hidup, ;
1. Mensyukuri keadaan
2. Tidur 
3. Tertawa terbahak-bahak
4. Bertanggung Jawab

Kamu boleh setuju boleh tidak, buat saya, menyelesaikan kewajiban tugas itu lebih utama daripada main. Biarpun terkadang merasa kesal atau sesekali menyesal.
Cape itu wajar, karena manusia punya batas tenaga. Dan menyesal itu juga wajar, karena Tuhan menghendaki kita belajar memperbaiki keadaan.

"Kadang kita perlu untuk tidak mendengarkan apa kata orang lain untuk tetap berlari"
#BodoAmat

"Oon aku cuma topeng, baik aku juga cuma topeng"

Senin, 09 April 2012

Barcelonaaaa *Lari-lari*

Saya orang yang paling simpel sedunia. Yakinlah, seyakin-yakinnya. Tapi perlu diketahui juga, kalau tipe 'simpel' khas saya itu, adalah simpel yang cukup ribet. Lebih ribet daripada orang neko-neko. :B

Dulu saya pernah menulis soal cita-cita, yang disana sempat dituliskan bahwa saya memohon untuk tidak ditanya soal: "cita-cita kamu apa?". Katanya sih, karena alasannya yang sudah mulai mengabur. Baiklah, kita flashback ke masa sekitar tiga bulan lalu. Disana ada Emenk, Raptor, Masbas, Caming, dan Anuy. Kita sedang menikmati senja maghrib, berlaga seperti gank-gaul-abis yang menghabiskan waktu di Tangga Batu, Kampus.
Seingat saya, sore itu tiba-tiba Raptor bertanya "cita-cita kamu apa? (atau) kalian apa?" atau "kalau udah lulus dari sini mau jadi apa?"
Astaga. Saya sama sekali gak kebayang akan jadi apa waktu ditanya begitu. 

Saya ingin kerja di media. Begitu menggebu, sebenarnya ingin jadi presiden juga. Tapi kalau jadi presiden, berarti suaminya harus Raja Inggris. :p Jadi lebih baik jadi ini saja, jadi Annisa Vikasari biar suaminya boleh tentara, boleh arsitek, boleh pilot, boleh pemain sepak bola, boleh gitaris, boleh drummer, boleh dosen, asal jangan tukang jualan korong aja. :)) #Tuhan taulah siapa yang aku mau. :* #PRAY

Cita-cita saya simpel sekali, cuma ingin ke Barcelona.
Hanya saja, saya tau. Untuk ukuran orang seperti saya, sampai di Barcelona itu adalah hal yang perlu perjuangan besar. Dan saya percaya, ini semua adalah perjalananan dengan perjuangan besar tersebut.
Semuanya, adalah usaha untuk bisa memijakkan kaki disana.

Perasaan ingin berada disana, akhir-akhir ini sangat menggebu.
Mangkanya saya paling suka musik klasik, yang entah mengapa dengan mudahnya menggoyangkan bayangan wajah salah satu kota di Spanyol itu. Dengan mudahnya mewakili Barcelona. Tempat impian.

Jika suatu saat saya bisa disana, saya tidak tau akan jadi sebahagia apa.
Jadi, mudah-mudahan Tuhan dengan baik hati tidak mengirimkan orang-orang itu mengantarkan saya ke sana.
Alasannya hanya satu, jika berangkat dengan orang yang tidak kita kehendaki, saya hanya takut tidak bisa menikmati perjalanan itu.

Kalau harus diantar, saya suka kalau itu adalah 

"Aku sedang berlari ke Barcelona dengan sebuah ransel hitam berisi ke-pantang-menyerahan."

~Semoga.

Amin. 

Jumat, 06 April 2012

Dua Delapan Empat #3

Kita itu so sweet

Mayang: "ih bodor, udah nikmatin aja kayak gini dulu, kalian teh sama"

Huffftthhh.
Penjelasan Mayang memang bikin aku terbang setinggi gedung 181 Lantai, memang belum sampai awan, lagi-lagi, karena aku masih ragu besar.

Lucu memang keadaannya. kita berdua saling balas, semuanya, sampai rasa cemburu.

"Aku kesal kalau tidak bertemu denganmu untuk beberapa hari, biarpun masih bisa tertawa terbahak-bahak. Setelah kesal, kamu yang jadi korbannya, atau mungkin hubungan kita berdua."

Aku paling suka marah-marah sendiri kalau aku lagi "marahan" sama kamu. Lucu kan? kondisinya kamu juga begitu. Alibinya kita berdua sedang bermasalah. Dua-duanya.
Kalau sudah baikan, kita berdua ya begini. Baik, semua keadaan tiba-tiba baik, tidak ada masalah sama sekali, semuanya sudah beres.
:)

Pertengkaran memang cara yang ampuh untuk lebih saling mengenal.
Dan karena kita "marahan" lah, sekarang aku jadi tau cara menaklukan perilakumu.
Aku suka begini.
Begini terus ya.
:D