Sabtu, 04 Februari 2012

High School, again!

There is a lot of things I can't bring back: Waktu, sejarah, dan jaman.

Ketika berkesempatan melongo teman lama, Uwie yang sedang pulang kampung karena dia menjajaki studi di Yogjakarta, saya bertemu dengan Acil untuk kemudian berbincang hingga pukul dimana saya mendapat panggilan dari Ayah dengan nada kesal; "Dimana kamu? udah malem ini, gimana sih!". Perbincangan yang memang hanya sebentar, hanya dua jam saja. Bisa berbincang apa hanya dengan waktu 120 menit? Apalagi kalau itu harus berbincang dengan teman lama, teman masa SMA yang semua orang sudah tau tidak bisa digantikan indahnya dengan masa apapun. 
Mungkin bukan kenangan bagaimana rasanya labil karena ditinggal kekasih atau bagaimana rasanya melayang bahagia karena ditembak cowok impian, melainkan itu buat saya adalah rasa melayang bahagia karena tidak terbebani masalah apapun, termasuk tentang #gunturnugraha yang tidak pernah menoleh ke arah tubuh dimana roh saya hinggap, yang disaat-yang mungkin bersamaan sedang menoleh ke tubuhnya-tidak bisa berhenti seperti itu selama es-em-a.
Mungkin memang tidak berbincang banyak soal jaman SMA, kami saat itu lebih banyak berbincang tentang keadaan sekarang, kesibukan kami masing-masing. Tentang kisah percintaan Uwie yang kandas, Acil yang kerja di Jakarta, dan saya yang masih belum punya kekasih. 
Dengan waktu yang sesingkat itu, saya hanya bisa pulang dengan perasaan tidak puas. Tapi kemudian keesokannya saya dapat kabar dari Ami yang ingin juga melepas rindu. Kami kemudian melanjutkan pertemua ditempat yang sama pada Jumat malam. 
Saya, Ami, Acil, Harry, Teguh, Yudha, Ninu, Nadya, dan Ichi seperti kuliah di tempat yang berjauhan, lintas provinsi, padahal kami sama-sama menjadi mahasiswa kota Bandung, tapi pertemuan hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu setahun sekali. Dulu kami pernah nangis-nangisan waktu Uwi dan Iman pergi melanjutkan studi di luar kota, tanpa pernah terbayangkan bahwa dengan kondisi kami yang saling dekat ini juga bisa jadi jauh.
Pertemuan kedua dengan Ami lebih tidak memuaskan karena saya hanya menyempatkan satu jam. Kami mengobrol banyak waktu itu ditemani secangkir susu+jahe, cemilan, dan rintikan hujan gerimis. Tertawa tanpa henti membicarakan sebuah kejadian yang-labil-sekali tentang salah satu teman kami. Malam itu, rumah Uwie benar-benar heboh, padahal cuma kami bertiga.
Perbincangan itu nyata atau tidak, telah meluangkan pikiran saya untuk kembali lagi ke masa hampir sekitar tiga tahun yang lalu. Kamu pernah melihat film yang Flashback? mata kamera berjalan mundur, dan kondisi putih abu lengkap dengan gedung putih oranye yang biasanya banjir saat hujan itu, timbul.

Ah, rindu SMA.
ada beberapa hal yang tidak saya lewati saat itu, semisal mengenai Guntur Nugraha.
saya memang jelas sekali tidak berperasaan yang sama pada laki-laki spesial satu itu dengan jaman dulu, sekarang. Tapi seperti ada sebuah penyesalan karena dulu saya sempat melupakan bagaimana harusnya saya berjuang menggapai si tuan. Nyatanya sekarang, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Seringkali saya hanya terlalu ketakutan.
Rindu SMA sekali, titik. 
Mengenai upacara sekolah, kejar-kejaran di koridor, olahraga di lapangan, foto-foto di DPR a.k.a Depan Pohon Rindang, praktikum IPA di Lab, makan mie di kantin, ngerjain PR di sekolah, nyontek waktu ulangan, di remed ujian, janjian gak ngerjain PR, dihukum karena bandel, gesek-gesekan, sampai soal merekam si doi main basket sampe delapan menit, bahkan nyolong sticker nama doi dari mejanya cuma buat disimpen.
Semua, saya rindu semuanya. 
Ingin rasanya mengulan hari bersama teman-teman putih abu, sehari saja. Andai saja bisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar