Selasa, 28 Februari 2012

Jurnalistik-bukan mata kuliah

Ini tulisan kesekian kalinya untuk Jurnalistik.
Dunia penuh gejolak yang tidak akan pernah bisa dirasakan orang lain diluar sana :O
Yang akan selalu orang-orang iri hati melihatnya, saya rasa begitu.

Kamu mungkin tidak akan bisa membayangkan seberapa hebatnya ruangan satu ini sampai bisa meluapkan banyak emosi. Mulai dari menanam benih cita-cita hingga mengubur cita-cita yang mulai tumbuh, semuanya.
Lelah kalau harus menulis impian saya dulu adalah menjadi jurnalis. Sama lelahnya kalau harus cerita tentang jawaban saya yang "i wanna be journalist" waktu sekolah dulu.
Buktinya sekarang, dunia ini merusak banyak hal -termasuk-mengenai-cita-cita atau semacam itu, biarpun tidak semuanya rusak, karena nyatanya saya masih suka menulis biarpun yang paling saya cintai adalah menulis fiksi, atau semacam-duamacamnya.

Tapi sampai saat ini saya masih percaya dengan kalimat, "berjuanglah agar dapat".
Setidaknya, sementara ini biar saya simpan dalam hati dengan perjuangan yang tidak perlu diumbar kepada orang lain tentang seberapa mantap dan apa cita-cita saya secara pasti, maksudnya supaya tidak mengabur lagi.

Saya hanya tertarik berbincang mengenai ini, Jurnalistik '09 dan Keluarga Mahasiswa Jurnalistik 2011-2012.
Sebelumnya pernah ada posting tentang Jurnalistik '09, tapi hanya sebatas cerita foto dan seberapa besar saya merindukan kebersamaan dengan mereka.
Tahun kemarin, jelas saya tidak dekat dengan mereka seperti sekarang. Padahal kami sudah disatukan oleh KMJ dan kelas-kelas yang selalu padat. Terkecuali mungkin semenjak lepas Lebaran, persiapan menuju Jambore Jurnalistik.

Mungkin diawali oleh rapat *untukpertamakalinya* di warung indung. Waktu itu yang ada cuma kami, KMJ-jurnalistik 2009. Berdebat soal konsep hingga cukup larut, dan ini juga pertama kalinya kami berdebat soal konsep.
Penggodokan konsepnya juga masih berlanjut hingga hari-hari berikutnya.
Entah mungkin hanya saya, atau entahlah. Tapi saya baru mulai merasa dekat saat itu, padahal saya selalu mengagung-agungkan kebersamaan yang ada di dalam sini.

Kelanjutannya, saya seiring waktu semakin merasa lebih dekat dengan mereka. Lebay sih, tapi beginilah saya kalau sudah jatuh cinta, yang saya selalu suka kalau sedang bersama mereka, selalu merasa rugi kalau ada moment bersama mereka tapi saya tidak bisa menyempatkan hadir. Icha, Anuy, Ucha, Udin, Raptor, Ikoy, Adimas, Emenk, Dede, Masbas, Tei, Bagas, Adun, dan teman-teman lain yang kami sering bersama di Akuarium-Aula-BemF-hingga di Kopma belakang dan Angkringan.
Saya belum pernah tau bagaimana rasanya nonton bareng dengan mereka, atau melakukan hal lain selain tertawa di tempat-tempat tadi, tapi itu cukup menghibur. Lebih menghibur daripada film-film di bioskop atau semacam itu.
Kamu yang diluar sana mungkin merasa bahwa hidup dikampus itu individual, entah bagaimana, tapi mereka bisa menghilangkan cap itu.
Hubungan sedekat ini saya paling suka.

Sama sukanya dengan gejolak muda KM Jurnalistik periodenya Adimas.
Entah karena masih baru atau bagaimana, tapi seolah organisasi ini berjalan dengan penuh gairah.
Saya suka bisa saling ramah sama teman-teman 2010. Ini pertama kalinya bisa lebih akrab dengan adik angkatan karena sebelumnya sama sekali tidak bisa begini. Bukan karena senioritas, tapi saya memang ga mudah menjalin pertemanan lintas angkatan, sebelumnya, sebelum saya kenal dengan Jurnalistik ini.
Seperti punya adik, ya seperti itu rasanya.

Moment #MengejarLigaNasiGoreng ini salah satunya,
hebat mereka itu. Seperti ini cukup kompak untuk acara pertama.
Mudah-mudahakan hubungan kita selalu sebaik ini, adik-adik. :D

Selalu hidup Jurnalistik, Keluarga Mahasiswa Jurnalistik.
Semoga tercapai cita-cita masing-masing.

~barcelona. :)

Rabu, 15 Februari 2012

I wonder where..

Hello .. It is me you're looking for?
'Cause I wonder where you are,
and I wonder what you do, 
are you somewhere feeling lonely or is someone loving you?
Tell me how to win your heart,
For I haven't get a clue,
But let me start by saying .. I love you.

Halo, sayakah yang kamu cari?
karena saya penasaran kamu dimana,
penasaran dengan apa yang sedang kamu lakukan,
apakah kamu di suatu tempat merasa sendiri atau seseorang sedang mencintai kamu?
Beri tau saya bagaimana caranya memenangkan hati kamu,
Saya gak pernah mendapat petunjuk,
tapi, biarkan saya memulainya dengan bilang.. Saya cinta kamu.


'I Wonder where you are--
sudah hampir lebih dari dua bulan.
atau itu saya tidak tau dimulai kapan, tapi mungkin  itu semenjak oktober, mungkin.
seperti yang sudah saya bilang dulu
mata saya yang mencari.
Kalau sudah tertangkap tubuhmu,  saya ingin menyandarkan pandangan ini hingga puas.
Selalu mencari tanda-tanda kamu supaya saya tau jika seharusnya kamu ada di sini.
Mencari kemungkinan tempat yang paling mungkin  untuk bisa berdekatan.

~ini mataku yang mencari, bukan aku..

Sabtu, 11 Februari 2012

Ada

Ada beberapa hal yang paling aku suka di dunia ini,
yaitu salah satunya adalah bisa mengetahui bahwa kau sukses merengkuh hidupku untuk memenuhi hidupmu supaya lengkap.

Ada beberapa hal yang paling aku inginkan di dunia ini,
yaitu salah satunya adalah bisa mengetahui bahwa aku pantas untuk membantumu membereskan kehidupan rumah tangga.

Ada beberapa hal yang paling aku takuti di dunia ini,
yaitu salah satunya adalah mengetahui bahwa kamu menghadap ke arah yang berbeda, kemudian aku melihat bagian punggungmu dan sadar bahwa kau tidak ada lagi disini, disampingku.

Ada beberapa hal yang paling aku cintai di dunia ini,
yaitu salah satunya adalah mengetahui bahwa aku sekarang sedang berada disampingmu.

Kita berdua sudah terlanjur menjadi begini,
Sekarang waktunya pasrah,
Tuhan sudah menngamankan satu, dan itu mungkin saja kau.

Senin, 06 Februari 2012

what a freak i am

Perbincangan hari Jumat malam dan Minggu siang bersama teman-teman es-em-a malah semakin membuat saya jatuh rindu pada masa-masa itu. Semakin banyak cerita yang diingat, semakin banyak kejadian yang ingin diulang.
Ini mungkin adalah cerita mengenai seorang perempuan, masih berumur 15-17 tahun yang mungkin tidak pernah bisa dibayangkan orang.
Kemarin, saya bercerita mengenai 'how freak i am when love someone', dan semua orang cuma pada bengong dengernya.
Mereka semua udah jelas tau siapa yang saya ceritakan karena tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mengingat lelaki mana yang paling membuat saya tertahan selama tepat tiga tahun. Setau saya mereka sudah jelas tau bagaimana ceritanya, ternyata tidak.
Saya menceritakan semua, membuka kedok yang ternyata teman-dekat-saya-pun-tidak menyangka saya se-freak itu, even they said that i am so impressive dengan menyukai si #G seperti ini. 
Saya dengan semarak menceritakan bagaimana detail saya memperhatikan dia, mulai dari jaket apa saja yang suka digunakannya, yaitu jaket jeans biru sobek-sobek dengan kancing yang merapat 2, jaket warna biru dongker jenis parasut dengan garis tangan merah marun, jaket hitam dengan gambar di bagian depan, jaket hitam dengan potongan bahu warna oranye, dan jaket warna hijau dengan kerah pendek kombinasi abu-abu.
Mendengar itu, mereka bilang begini, "ehm itu nepikeun ka apal si vika,"
Belum selesai sampai situ, ekspresi mereka mengundang saya bercerita lagi bahwa saya juga ingat sepatu seperti apa yang pernah dia pakai. "Vika juga tau sepatu yang pernah dia pake, jadi kalo liat sepatu kayak gitu teh vika jadi 'eh sepatunya kayak dia'" 
Dan itu juga belum selesai, saya juga menceritakan bahwa saya pernah merekam dia sedang main basket dengan beberapa temannya, waktu itu ketika sedang Ujian. Delapan menit, saya hanya pura-pura ngobrol bersama teman-teman kelas, padahal (teman-teman juga tau) kalau saya sedang merekam gerakan orang yang paling saya suka selama es-em-a.
Masih belum selesai, saya juga bercerita bahwa saya pernah sengaja masuk ke kelas dia, cuma buat duduk di tempat duduknya, dan mencuri sebuah sticker nama berwarna oranye dengan outline hitam milik dia untuk kemudian saya simpan, sampai sekarang masih ada. "vika sampe segitunya.." teman-teman.
Sebelum cerita selesai, teman-teman bilang begini, "tapi itu mah hebat ih, bisa suka sama orang selama itu, kayak gitu, kalau ada cowok kayak gitu, romantis da,". lalu saya menjawab, "keren? ini tuh freak tau. Tapi untung vika udah ga suka lagi, kalo vika sampe masih suka sama dia tandanya vika gila. Tapi menurut vika, kalau ada cowok kayak vika, malah vika jadi takut. Cowok itu harus berjuang, bukannya diem aja merhatiin orang yang dia suka." kemudian teman-teman saya menyangkal dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
Saya lalu melanjutkan cerita. "Vika tuh sampe apal helmnya, motornya, sampe plat nomornya.. d 5506 c0". "Si vika segitunya ya, aku aja ke pacar ga segitunya, ini vika masih ngecengin". Freak sekali memang, saya juga merasa seperti itu, dan saya merasakan cinta teramat dalam hingga masuk semester dua di bangku perkuliahan. Saya cerita bagaimana ketakutannya saya, kalau di jalan mendengar bunyi motor satria, atau melihat tipe-tipe posisi pengendara seperti si #G ini. 
"Si guntur tuh tau ga sih ada perempuan yang suka banget sama dia kayak gini"
Tanya saya sembari sedikit emosi lalu kemudian tertawa bersama teman-teman.
Saya bilang sama mereka, segemana senengnya saya waktu dia nyapa, "Vika" cuma gitu doang, dan saya jadi gila sendiri di kantin merasa gak percaya. Waktu dia bilang "iya ya sepuluh ribu aja, nanti bagi dua" pada saya yang waktu itu sedang menagih uang sama Gilang. Segemana saltingnya saya waktu dia ngajak salaman, dan segemana senengnya saya waktu akhirnya bisa foto bareng sama dia, dan ngobrol mengenai mau melanjutkan studi kemana sambil di rekam dengan HP Sony Erickson yang tidak ingin saya jual sampai sekarang. "Ini tuh HP udah jadi saksi, kenangan banget, sama guntur, sama uki, HP ini nih, mangkanya ga akan di jual". Jelas saya sambil kemudian merengkuh hpnya.
Saya juga cerita mengenai semua file yang berbau si #G udah saya rapiin di masukin CD, judulnya, guntur nugraha. "abis kalo gak gitu vika gak bakal bisa lupa sama guntur, pasti pengen buka lagi-buka lagi, mangkanya vika masukin cd semua. Nanti sewaktu-waktu inget, kan lucu kalo bisa diliat lagi"
"Dulu temen-teman semua tau kalo vika suka sama dia, kenapa ga ada yang gerak buat nyomblangin ya? ya biarpun vk yang bilang jangan sama mereka, harusnya mereka ngerti kalo vika tuh pengen pacaran sama dia" Hahahahhaa.. dan saya bersama teman-teman langsung tertawa terbahak-bahak.
Pada kesempatan yang sama, saya menjelaskan pada mereka tentang bagaimana bisa saya menyukai laki-laki ini, kronologisnya bagaimana, kejadiannya bagaimana, mulai dari bikasoga, koridor kelas, sampai sms ngajak kenalan yang tertulis begini, "Hai, nama gw GUNTUR, boleh kenalan gak?" GEBLEK. itu sms datang ketika saya belum suka sama cowok itu, dan itu masih kelas satu semester satu. dan sampai sekarang saya gak pernah tau guntur mana yang ngajak kenalan, karena saya ga pernah membalas sms kencan-kenalan buta seperti itu. Tapi ya itu kalo beberapa kejadian dirunutin, membuat saya menjadi merasa wajar kalau akhirnya menjadi jatuh cinta pada dia. 
"Ih, kok kayak yang berhubungan ya, kalo di jadiin novel romantis da" saya mendengar itu dari salah satu teman. Saya tuh tau, dia suka banget sama Blink 182, dan menjadikan sosok Travis sebagai idola, karena dia juga sekarang seorang drummer.
Kalau sama Uki peterpan gimana? "Beda atuh itu mah nge fans. Kalo ngeliat uki juga cuma, ih ganteng banget, gitu doang. Nge fans doang kalo sama Uki sih. Selama suka sama Guntur tuh vika ga bisa suka sama orang lain lagi."

"Sekarang saya memang udah gak suka sama dia, tidak pernah melongo ke facebooknya lagi juga, apalagi merasa takut kalau ada bunyi motornya di jalan, ditambah juga ga pernah memerhatikan gaya pengendara motor untuk mendekteksi itu #G atau bukan. 
Saya sudah ga suka sama dia, biarpun saya bilang sama teman-teman, tapi ya masih nyetrum. Nyetrumnya karena saya ingat, "dulu vika pernah suka banget sama dia, dan vika menghargai perasaan tulus itu sampai sekarang."

"Guntur itu ganteng, dan dia lebih ganteng daripada Uki peterpan" ~~~ 

dan teman-teman semua bilang.. "aaah vika gantengan uki peterpan!!!"

Guntur SMA itu cowok paling ganteng yang pernah vika liat, dan vika ga pernah ngeliat guntur lagi semenjak  kelulusan, semenjak dia berjalan menuju ruang guru buat ngambil ijazah. dan itu udah hampir tiga tahun yang lalu. :)

Sabtu, 04 Februari 2012

High School, again!

There is a lot of things I can't bring back: Waktu, sejarah, dan jaman.

Ketika berkesempatan melongo teman lama, Uwie yang sedang pulang kampung karena dia menjajaki studi di Yogjakarta, saya bertemu dengan Acil untuk kemudian berbincang hingga pukul dimana saya mendapat panggilan dari Ayah dengan nada kesal; "Dimana kamu? udah malem ini, gimana sih!". Perbincangan yang memang hanya sebentar, hanya dua jam saja. Bisa berbincang apa hanya dengan waktu 120 menit? Apalagi kalau itu harus berbincang dengan teman lama, teman masa SMA yang semua orang sudah tau tidak bisa digantikan indahnya dengan masa apapun. 
Mungkin bukan kenangan bagaimana rasanya labil karena ditinggal kekasih atau bagaimana rasanya melayang bahagia karena ditembak cowok impian, melainkan itu buat saya adalah rasa melayang bahagia karena tidak terbebani masalah apapun, termasuk tentang #gunturnugraha yang tidak pernah menoleh ke arah tubuh dimana roh saya hinggap, yang disaat-yang mungkin bersamaan sedang menoleh ke tubuhnya-tidak bisa berhenti seperti itu selama es-em-a.
Mungkin memang tidak berbincang banyak soal jaman SMA, kami saat itu lebih banyak berbincang tentang keadaan sekarang, kesibukan kami masing-masing. Tentang kisah percintaan Uwie yang kandas, Acil yang kerja di Jakarta, dan saya yang masih belum punya kekasih. 
Dengan waktu yang sesingkat itu, saya hanya bisa pulang dengan perasaan tidak puas. Tapi kemudian keesokannya saya dapat kabar dari Ami yang ingin juga melepas rindu. Kami kemudian melanjutkan pertemua ditempat yang sama pada Jumat malam. 
Saya, Ami, Acil, Harry, Teguh, Yudha, Ninu, Nadya, dan Ichi seperti kuliah di tempat yang berjauhan, lintas provinsi, padahal kami sama-sama menjadi mahasiswa kota Bandung, tapi pertemuan hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu setahun sekali. Dulu kami pernah nangis-nangisan waktu Uwi dan Iman pergi melanjutkan studi di luar kota, tanpa pernah terbayangkan bahwa dengan kondisi kami yang saling dekat ini juga bisa jadi jauh.
Pertemuan kedua dengan Ami lebih tidak memuaskan karena saya hanya menyempatkan satu jam. Kami mengobrol banyak waktu itu ditemani secangkir susu+jahe, cemilan, dan rintikan hujan gerimis. Tertawa tanpa henti membicarakan sebuah kejadian yang-labil-sekali tentang salah satu teman kami. Malam itu, rumah Uwie benar-benar heboh, padahal cuma kami bertiga.
Perbincangan itu nyata atau tidak, telah meluangkan pikiran saya untuk kembali lagi ke masa hampir sekitar tiga tahun yang lalu. Kamu pernah melihat film yang Flashback? mata kamera berjalan mundur, dan kondisi putih abu lengkap dengan gedung putih oranye yang biasanya banjir saat hujan itu, timbul.

Ah, rindu SMA.
ada beberapa hal yang tidak saya lewati saat itu, semisal mengenai Guntur Nugraha.
saya memang jelas sekali tidak berperasaan yang sama pada laki-laki spesial satu itu dengan jaman dulu, sekarang. Tapi seperti ada sebuah penyesalan karena dulu saya sempat melupakan bagaimana harusnya saya berjuang menggapai si tuan. Nyatanya sekarang, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Seringkali saya hanya terlalu ketakutan.
Rindu SMA sekali, titik. 
Mengenai upacara sekolah, kejar-kejaran di koridor, olahraga di lapangan, foto-foto di DPR a.k.a Depan Pohon Rindang, praktikum IPA di Lab, makan mie di kantin, ngerjain PR di sekolah, nyontek waktu ulangan, di remed ujian, janjian gak ngerjain PR, dihukum karena bandel, gesek-gesekan, sampai soal merekam si doi main basket sampe delapan menit, bahkan nyolong sticker nama doi dari mejanya cuma buat disimpen.
Semua, saya rindu semuanya. 
Ingin rasanya mengulan hari bersama teman-teman putih abu, sehari saja. Andai saja bisa.