Kamis, 29 Desember 2011

Papa

Perasaan apa yang menggulung hatimu?
Mungkin itu yang terbayang, terlintas begitu dibenak saya. 
Siapa lagi kalau bukan si "A" yang sering saya sebut itu yang kemudian *tring* tiba-tiba seperti muncul didepan mata, padahal dia tidak pernah ada disitu, duduk disebelah kanan atau kiri, atau didepan meja makan saya ini.
Bayangan-bayangan tentang dia benar-benar jelas dalam-beberapa-hari-belakangan.

Perasaan macam itu muncul setiap saat dan saya tau hal tersebut bodoh.

Tadi Ibu cerita tentang sesuatu hal, mengenai kakak yang sudah mengungsi ke Jakarta untuk hidup bersama suaminya. 
Bukan tentang Ibu, tapi tentang pendapat Ayah.
Ayah begitulah karena dia mungkin terlalu dalam mencintai keseluruh anaknya. Mba, saya, dan Bagas.
Dia suka sekali kalau melihat ketiga anaknya ini bisa ada dirumah, nonton film, makan nasi goreng bareng, bikin masakan, maen PS, ketawa-ketawaan nonton OVJ, atau apalah yang jarang kami lakukan bersama. 
Mangkanya mungkin karena perasaan cinta terhadap keluarga yang menggulung pikiran dan hatinya itu, jadi kita bertiga lebih sering gak dibolehin keluar rumah. 
Semua anak-anaknya sering dimarahin karena terlalu larut pulang ke rumah. 
Sebagai anak yang punya teman diluar, saya tentu punya keinginan bisa berada diluar lebih lama karena sedang menikmati hal itu.
Papa itu selalu ingin keluarganya ngumpul. Dan entah dikeluarga lain sama atau tidak. Tapi begitulah cara Papa mencintai keluarganya.
Kadang memang terlalu berlebihan caranya.

Tapi saya baru sadar tadi aja, sejenak. ketika mama bilang,

"Papa pengen jual rumah ini, nanti kalau pensiun. Terus mau cari rumah di Bekasi katanya, biar bisa deket sama anak-anaknya terus. Kan Mba di Jakarta, terus juga katanya kamu maunya kerja di Jakarta, jadi biar deket katanya"

Woooow saya tidak pernah terpikir ke sana.
Sebegitu dalamkah rasanya dia memiliki kami? Mungkin aja sekarang yang ada dikepalanya adalah, "bagaimana caranya supaya kami selalu berdekatan"

Papa mungkin sudah mulai menyadari kami sudah mulai besar, semakin besar, semakin dekat dengan waktu-waktu perpisahan.
Saya sendiri, masih belum punya pacar, sudah terlalu sering sibuk diluar. Hari Minggu yang seharusnya ada buat dia, saya malah ada di Kampus, rapat --__--.
Hari Sabtu ketika kantornya libur, saya juga di Kampus, kuliah --___--
Malam hari ketika dia pulang kantor, saya juga baru pulang kampus dan saya langsung tertidur karena kecapean.
Waktu bangun pagi, saya malah sering ga ketemu karena belum bangun tidur sewaktu dia udah berangkat kerja.

Yang selama ini saya pikirkan adalah Papa hanya takut saya kenapa-kenapa di jalan kalau pulang malam, tapi mungkin salah satunya adalah karena dia ingin berbincang dengan saya sebelum suatu saat saya dipinang orang dan kepemilikannya jadi berubah.

Saya gak pernah terpikir, mungkinitu perasaan yang sering menggulung hati Papa. 
sedangkan saya hanya sering berpikir, bagaimana caranya bertemu dengan A, kemudian bisa memiliki hubungan saling memiliki hingga akhir hidup.

Papa, everybest for you.
I love you.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar