Kamis, 22 Desember 2011

Dua Delapan Empat #1

Tuhan bersama kita yang tersabar.

Tapi kalimat itu masih belum cukup menyabarkan aku dengan pertemuan-pertemuan yang ku tunggu sejak perpisahan itu.

Dulu aku gila dengannya kemudian sekarang paham bahwa aku juga masih tergila-gila dengannya.
Semakin lama semakin kacau, bahkan perasaan-perasaan terhubung kian menyelubungi pikiran yang sebenarnya, aku tidak terlalu percaya.

Namanya Anggra Setya Ikbal, sekarang sedang berada di Bandung di tempatku, sementara aku berada di Jakarta, ditempatnya. Dia kuliah di UGM, Yogjakarta, teknik sipil. Aku tau dia pintar, dari SMP kemampuan akademisnya juga sudah menonjol, biarpun dia sama sekali tidak pernah masuk kelas unggulan dibandingkan aku yang pernah bertahan dikelas itu hingga tingkat tiga.

Dan namaku Ariona Annisa. Kuliah di Bandung, di jurusan Seni Rupa. Aku tau aku pintar, tapi bukan tipe pelajar. Aku hanya mahasiswi dengan short memory, yang hanya bisa mempertahankan ingatan mata kuliah dalam waktu paling lama satu jam. Setidaknya dua puluh lima menit untuk mengingat dimana aku menyimpan kunci motor dan kartu parkir, dua jam mengingat dimana aku menyimpan HP, dan sehari untuk ingat kalau aku harus mengambil STNK di kosan teman. nah, itulah alasan kenapa aku tidak ambil jurusan Arsitektur, yang bisa saja menghubungkan aku dengan Anggra.

Tapi aku tidak melupakan Anggra, untuk enam tahun lamanya. Bahkan ingatanku dengan kondisi antara aku dan dia semakin jelas, termasuk bentuk badannya yang waktu masih bongsor.

Atau dengan kepalanya yang menengadah kalau berjalan, atau baju kokonya yang berwarna putih, dengan celana jeans normal biru. Aku tau dengan tas bundarnya yang berwarna hijau tentara.

Aku berjalan dibelakangnya berkhayal banyak hal seandainya sekarang aku ada disampingnya, melihat dia tersenyum karena sedang bersama orang yang disukainya berjalan menuju ruang kelas.

Aku tau sekali dulu aku hanya suka dia, tentu karena saat itu umurku baru menginjak tiga belas tahun. Aku tau itu cinta monyet, tapi aku sadar, bahwa perasaan suka yang pertama kali datang itu tidak bisa mudah dihapuskan karena bahkan, memimpikan bisa hidup bersama Garuda juga bukan main susahnya untuk membuatku melupakan Anggra.

Kacaunya, ketika sudah mencintai Garuda, aku sekarang malah jatuh cinta lagi pada Anggra yang tidak pernah aku temui sama sekali.

Nah, aku benar-benar tidak mengerti kenapa Tuhan menaruh kembali perasaan ini, mungkin untuk menjodohkan kami berdua?

Sementara aku tau Anggra sangat menyukai wanita-wanita cantik yang anggun, bukan yang seperti aku, yang dengan rambut diikat dan motor supra dan sepatu kets.

Aku dan Anggra mungkin berjodoh, seperti keyakinan aku tentang pertemuan yang belum Tuhan mulai.

Aku pernah merasakan tubuhnya biarpun dia tidak pernah hadir, semogapun dia.

 ***

Malam ini 0 : 08 waktu Jakarta dengan hiasan lampu-lampu kota dari apartemen lantai sepuluh karena aku sedang menginap disini, bukan untuk liburan, sebenarnya dengan tujuan berkunjung ke daerah Anggra tinggal, di sekitaran Tanggerang. Aku tidak tau untuk apa, karena saat ini dia sedang di Bandung, melakukan pelatihan-pelatihan terbang, maksudku dia sedang berada jauh dari kota tempatnya mengais ilmu untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Aku tau aku bodoh karena malah meninggalkan kesempatan bertemu dengannya di kota dimana kami berdua bertemu.

Bandung memang tidak romantis,  ingatan-ingatanku mengenai Bandung juga tidak terlalu bagus. Ya aku memang dua puluh tahun tertidur disana, dengan semua keadaan kampus yang membuat aku gila. Bukan aku menyalahkan keadaan, disana aku terlalu membiarkan diriku dijadikan kuli untuk kepuasan orang lain tanpa aku menyayangi diriku sendiri untuk setidaknya, berpikir bahwa aku harus lebih banyak melihat ke kanan-kiri, supaya sadar siapa yang lelaki yang sedang datang ke arahku agar tidak mengabaikannya.

Tapi bodoh, walaupun sadar, harapanku hanya masih tergantung pada Anggra saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar