Jumat, 30 Desember 2011

Anggara

Hari ini masih 30 Desember 2011.
Enam tahun sudah perjalanan saling menunggu.
Tidak pernah ada permulaan, tapi malah bertemu dengan perpisahan.

Kita tidak pernah kenal bukan?
lalu kenapa aku malah harus merasa bersedih karena berpisah denganmu?
Berpisah secara sepihak.
Ini aku yang mau, bukan hatiku.

Mungkin sudah ini waktunya.
Tuhan mungkin juga sudah lelah.
Dia lagi-lagi terus membantu aku menambal dinding-dinding keropos yang tidak pernah aku bor.

Pertemuan kita bahkan belum pernah mulai, A.
Tapi sudahlah,
Hurufmu sekarang sudah sampai di depan mataku.
Mungkin jika suatu saat kita bertemu, kamu, atau aku yang akan lupa.

Dan aku harap itu aku yang tidak pernah ingat.
Kalau kita pernah berpisah, padahal selalu disatukan dengan harapan yang tidak pernah terisi.

Selamat jalan, ini adalah prosesku menemukan.
Aku lalu ingin tersenyum dalam tidur.

Anggra, aku tau kamu disana sedang tidak mencintai siapa-siapa, tapi sedang mengagumi seseorang.
Kalau kita bertemu, aku ingin kamu ingat satu hal,
dulu kamu pernah memberikan salam kenal itu.

~~dadah.

ini aku sedih, tapi tak menangis sedikitpun.

Kamis, 29 Desember 2011

anuy home.. on Twitpic

anuy home.. on Twitpic

Ini mungkin adalah tulisan pertama kalinya tentang bersama mereka.
Baru akhir-akhir ini, sepertinya saya mengerti bagaimana rasanya bisa menjadi salah satu dari mereka.
Benar-benar mengerti.
Kemarin-kemarin itu, saya bicara tentang KMJ.
Keluarga Mahasiswa Jurnalistik yang kemudian mendekatkan kami satu sama lain.
Itu mereka adalah teman-teman Jurnalistik 2009.
Bisa bersama mereka adalah hal yang sering saya lakukan.
Tapi menjelang demisioner, kebersamaan dengan mereka jarang lagi saya rasakan.
Mungkin karena kesibukan dengan "mereka-mereka" hingga menjadikan saya dengannya-nya jauh.
Atau saya yang merasa begitu.

Saya suka bisa berada dengan mereka.
Maksudnya, saya tidak pernah bisa kehilangan mood dengan Jurnalistik 2009. Never. :)


Papa

Perasaan apa yang menggulung hatimu?
Mungkin itu yang terbayang, terlintas begitu dibenak saya. 
Siapa lagi kalau bukan si "A" yang sering saya sebut itu yang kemudian *tring* tiba-tiba seperti muncul didepan mata, padahal dia tidak pernah ada disitu, duduk disebelah kanan atau kiri, atau didepan meja makan saya ini.
Bayangan-bayangan tentang dia benar-benar jelas dalam-beberapa-hari-belakangan.

Perasaan macam itu muncul setiap saat dan saya tau hal tersebut bodoh.

Tadi Ibu cerita tentang sesuatu hal, mengenai kakak yang sudah mengungsi ke Jakarta untuk hidup bersama suaminya. 
Bukan tentang Ibu, tapi tentang pendapat Ayah.
Ayah begitulah karena dia mungkin terlalu dalam mencintai keseluruh anaknya. Mba, saya, dan Bagas.
Dia suka sekali kalau melihat ketiga anaknya ini bisa ada dirumah, nonton film, makan nasi goreng bareng, bikin masakan, maen PS, ketawa-ketawaan nonton OVJ, atau apalah yang jarang kami lakukan bersama. 
Mangkanya mungkin karena perasaan cinta terhadap keluarga yang menggulung pikiran dan hatinya itu, jadi kita bertiga lebih sering gak dibolehin keluar rumah. 
Semua anak-anaknya sering dimarahin karena terlalu larut pulang ke rumah. 
Sebagai anak yang punya teman diluar, saya tentu punya keinginan bisa berada diluar lebih lama karena sedang menikmati hal itu.
Papa itu selalu ingin keluarganya ngumpul. Dan entah dikeluarga lain sama atau tidak. Tapi begitulah cara Papa mencintai keluarganya.
Kadang memang terlalu berlebihan caranya.

Tapi saya baru sadar tadi aja, sejenak. ketika mama bilang,

"Papa pengen jual rumah ini, nanti kalau pensiun. Terus mau cari rumah di Bekasi katanya, biar bisa deket sama anak-anaknya terus. Kan Mba di Jakarta, terus juga katanya kamu maunya kerja di Jakarta, jadi biar deket katanya"

Woooow saya tidak pernah terpikir ke sana.
Sebegitu dalamkah rasanya dia memiliki kami? Mungkin aja sekarang yang ada dikepalanya adalah, "bagaimana caranya supaya kami selalu berdekatan"

Papa mungkin sudah mulai menyadari kami sudah mulai besar, semakin besar, semakin dekat dengan waktu-waktu perpisahan.
Saya sendiri, masih belum punya pacar, sudah terlalu sering sibuk diluar. Hari Minggu yang seharusnya ada buat dia, saya malah ada di Kampus, rapat --__--.
Hari Sabtu ketika kantornya libur, saya juga di Kampus, kuliah --___--
Malam hari ketika dia pulang kantor, saya juga baru pulang kampus dan saya langsung tertidur karena kecapean.
Waktu bangun pagi, saya malah sering ga ketemu karena belum bangun tidur sewaktu dia udah berangkat kerja.

Yang selama ini saya pikirkan adalah Papa hanya takut saya kenapa-kenapa di jalan kalau pulang malam, tapi mungkin salah satunya adalah karena dia ingin berbincang dengan saya sebelum suatu saat saya dipinang orang dan kepemilikannya jadi berubah.

Saya gak pernah terpikir, mungkinitu perasaan yang sering menggulung hati Papa. 
sedangkan saya hanya sering berpikir, bagaimana caranya bertemu dengan A, kemudian bisa memiliki hubungan saling memiliki hingga akhir hidup.

Papa, everybest for you.
I love you.

Selasa, 27 Desember 2011

kacau

"Aku ingin berbicara denganmu
Berharap bisa memberitahumu kalau aku suka setiap bisa berlama-lama memandang tubuhmu, berikut wajahmu yang tidak tampan itu.
Aku suka setiap melihatmu, merasa mood menjadi baik karena kau selalu bisa membuat aku tersenyum sendiri.
Tau tidak ini bukan perasaan cinta.
Perasaannya sama seperti aku kepada yang lain, hanya melihatmu lebih menenangkan daripada hanya sekedar memandang yang lain.
Ini mataku yang memilihmu, bukan aku.

Lalu aku juga ingin bicara lagi,
berharap bisa memberitahu kalau aku tidak menyukai pria kurus kerempeng.
Tapi itu juga kamu yang paling ingin aku peluk.
Bukan karena aku menyayangimu lebih dari perasaan sayangku kepada orang lain, tapi terlebih karena tubuhmu yang paling menyamankan aku ketika aku berada disampingmu.
Ini tubuhku yang ingin, bukan aku.

Kemudian jika ada waktu lain, aku masih ingin bicara.
Tapi mungkin kamu sudah tau,
kalau bisa menapakkan tanganku di tubuhmu juga paling aku suka.
Bukan karena aku bernafsu, tapi karena lingkar lenganmu juga yang paling bisa aku rengkuh dengan lengkap.
Ini tanganku yang mencari, bukan aku."

Kamis, 22 Desember 2011

Dua Delapan Empat #1

Tuhan bersama kita yang tersabar.

Tapi kalimat itu masih belum cukup menyabarkan aku dengan pertemuan-pertemuan yang ku tunggu sejak perpisahan itu.

Dulu aku gila dengannya kemudian sekarang paham bahwa aku juga masih tergila-gila dengannya.
Semakin lama semakin kacau, bahkan perasaan-perasaan terhubung kian menyelubungi pikiran yang sebenarnya, aku tidak terlalu percaya.

Namanya Anggra Setya Ikbal, sekarang sedang berada di Bandung di tempatku, sementara aku berada di Jakarta, ditempatnya. Dia kuliah di UGM, Yogjakarta, teknik sipil. Aku tau dia pintar, dari SMP kemampuan akademisnya juga sudah menonjol, biarpun dia sama sekali tidak pernah masuk kelas unggulan dibandingkan aku yang pernah bertahan dikelas itu hingga tingkat tiga.

Dan namaku Ariona Annisa. Kuliah di Bandung, di jurusan Seni Rupa. Aku tau aku pintar, tapi bukan tipe pelajar. Aku hanya mahasiswi dengan short memory, yang hanya bisa mempertahankan ingatan mata kuliah dalam waktu paling lama satu jam. Setidaknya dua puluh lima menit untuk mengingat dimana aku menyimpan kunci motor dan kartu parkir, dua jam mengingat dimana aku menyimpan HP, dan sehari untuk ingat kalau aku harus mengambil STNK di kosan teman. nah, itulah alasan kenapa aku tidak ambil jurusan Arsitektur, yang bisa saja menghubungkan aku dengan Anggra.

Tapi aku tidak melupakan Anggra, untuk enam tahun lamanya. Bahkan ingatanku dengan kondisi antara aku dan dia semakin jelas, termasuk bentuk badannya yang waktu masih bongsor.

Atau dengan kepalanya yang menengadah kalau berjalan, atau baju kokonya yang berwarna putih, dengan celana jeans normal biru. Aku tau dengan tas bundarnya yang berwarna hijau tentara.

Aku berjalan dibelakangnya berkhayal banyak hal seandainya sekarang aku ada disampingnya, melihat dia tersenyum karena sedang bersama orang yang disukainya berjalan menuju ruang kelas.

Aku tau sekali dulu aku hanya suka dia, tentu karena saat itu umurku baru menginjak tiga belas tahun. Aku tau itu cinta monyet, tapi aku sadar, bahwa perasaan suka yang pertama kali datang itu tidak bisa mudah dihapuskan karena bahkan, memimpikan bisa hidup bersama Garuda juga bukan main susahnya untuk membuatku melupakan Anggra.

Kacaunya, ketika sudah mencintai Garuda, aku sekarang malah jatuh cinta lagi pada Anggra yang tidak pernah aku temui sama sekali.

Nah, aku benar-benar tidak mengerti kenapa Tuhan menaruh kembali perasaan ini, mungkin untuk menjodohkan kami berdua?

Sementara aku tau Anggra sangat menyukai wanita-wanita cantik yang anggun, bukan yang seperti aku, yang dengan rambut diikat dan motor supra dan sepatu kets.

Aku dan Anggra mungkin berjodoh, seperti keyakinan aku tentang pertemuan yang belum Tuhan mulai.

Aku pernah merasakan tubuhnya biarpun dia tidak pernah hadir, semogapun dia.

 ***

Malam ini 0 : 08 waktu Jakarta dengan hiasan lampu-lampu kota dari apartemen lantai sepuluh karena aku sedang menginap disini, bukan untuk liburan, sebenarnya dengan tujuan berkunjung ke daerah Anggra tinggal, di sekitaran Tanggerang. Aku tidak tau untuk apa, karena saat ini dia sedang di Bandung, melakukan pelatihan-pelatihan terbang, maksudku dia sedang berada jauh dari kota tempatnya mengais ilmu untuk mengunjungi neneknya yang sakit. Aku tau aku bodoh karena malah meninggalkan kesempatan bertemu dengannya di kota dimana kami berdua bertemu.

Bandung memang tidak romantis,  ingatan-ingatanku mengenai Bandung juga tidak terlalu bagus. Ya aku memang dua puluh tahun tertidur disana, dengan semua keadaan kampus yang membuat aku gila. Bukan aku menyalahkan keadaan, disana aku terlalu membiarkan diriku dijadikan kuli untuk kepuasan orang lain tanpa aku menyayangi diriku sendiri untuk setidaknya, berpikir bahwa aku harus lebih banyak melihat ke kanan-kiri, supaya sadar siapa yang lelaki yang sedang datang ke arahku agar tidak mengabaikannya.

Tapi bodoh, walaupun sadar, harapanku hanya masih tergantung pada Anggra saja.

Rabu, 21 Desember 2011

Emosi antagonis anak kecil

1. Saya tidak suka orang meniru saya
2. Saya tidak suka orang lain "mengkopi-paste" apa yang saya ucap untuk dijadikannya juga 'menurut saya'
3. Saya tidak suka orang lebay yang selebay-lebaynya secara sepihak merasa paling 'dekat' dengan.. (Tuhan tau lah ini siapa)
4. Saya tidak suka orang merendahkan keluarga saya, Ibu, Ayah, Bagas, Mba. biar saya suka cerita tentang mereka, lalu hak apa yang dimiliki semua orang untuk ikut-ikutan mengomentari keluarga saya tersebut? Saya memang tidak bisa mengontrol komentar orang lain, tapi orang lain harus sadar benar siapa yang dia komentari di depan siapa. Saya paling ga suka denger ini, "Ayah kamu tuh ya.. Ibu kamu tuh aneh, mba apalah, bagas apalah" SADAR ATUH HEY MANEH NGOMONG JENG SAHA!!!! *sabar*
5. Saya -ini karena saya sedang merasa berperan antagonis- tidak suka di duplikat orang lain mengenai isi kepala.
6. Saya tidak suka gaya saya dicolek orang lain, dihargai sebagai miliknya juga karena terlampau .. 

(sudahlah, Tuhan tau tulisan ini untuk siapa)

Satu, saya ingin bilang ini. Tapi saya berusaha melupakannya. Bukannya manuia harus sabar? dan karena itulah saya mencoba meluapkannnya melalui tulisan ini, setidaknya supaya saya lebih tenang. *biarpun hati saya masih panas ingat mukanya*

Ayolah Tuhan, bantu saya lagi untuk terus bersabar.
Bukankah saya hidup untuk diberi masalah, mengatasi tantangan, dan saya membutuhkan kekuatan-kekuatan itu.

Tambahan : 
7. Saya tidak suka diatur, apalagi menerima komentar orang yang "emosi dengan pendapatnya" dan menganggap itu benar, bukannya setiap orang punya cita-cita masing-masing? prioritas masing-masing? tujuan masing-masing? kesukaannya masing-masing? 
Ga usah marah-marah lah dengan cita-cita orang mau jadi apa, mau kemana, mau gimana, tiap orang punya cara hidup dan jalannya masing-masing.
Inget deh, menghormati keinginan orang lain itu penting buat hidup kita semua masing-masing! perhatian ga harus semena-mena berpendapat, manusia yang lain masih punya hati juga, bukan cuma kamu. 

nol dua dua

Sinetron?
Siapa yang berpikir bahwa semua cerita itu hanya akan muncul di sinetron?
gila rasanya kalau kenyataannya, cerita sinetron itu sekarang sedang namplok di punggung saya. (F) #faakkkkkk

Beberapa orang akan sadar tentang cerita ini, walaupun saya tidak tau akan seperti apa ekspresinya.
Sinetron apa? pun saya gak perlu menjelaskan karena situasi seperti ini gila, well cukup membuat saya mengerenyitkan dahi tiap terpikir masalah ini.
Parahnya, saya harus menjalaninya dan dipaksa rela terlibat. hufffftttt #agendamarah-marah

Haha ya sudahlah, saya mengamininya sebagai pelajaran yang hebat. Sebagai salah satu perjalanan yang ingin sekali lagi menyampaikan saya ke kedewasaan yang lebih tinggi lagi.

Tuhan bersama orang yang sabar. Saya tau benar apa yang sedang saya lakukan ini memberikan kesempatan orang lain menilai saya jahat, aneh, dan tega. Tapi ada satu hal yang saya pikir tidak perlu saya takutkan tentang semua pandangan orang lain itu, bahwa saya tidak akan melakukan apa yang mereka takutkan terjadi.

Nah sudahlah. lupakan. mengingat ini hanya ingin membuat saya marah.

nol lima belas

Daun itu sudah kering, jatuh, terkapar diatas tanah.
Semilir angin pun kemudian hilang, terbang bersama udara dari darat.

Manusia tidak pernah bisa benar-benar menerka apa yang akan terjadi dengannya dikemudian hari. Sedang mereka hanya bisa berdoa, semoga apa yang telah dikerjakan hasilnya seperti apa yang mereka mau, atau seperti bagaimana Tuhan mengaturnya agar mereka bahagia.

I beg you.

Semoga saya mampu menerima apa yang Tuhan atur, 
supaya saya mampu dewasa bagi lelaki yang sudah Tuhan tunjuk untuk mengimami saya. Amin.

Selasa, 13 Desember 2011

radiT (inisial)

Halo Radit,
dimana ya kamu malam ini?
aku rindu sekali ingin bertemu biarpun itu sangat sulit.
Aku tau Tuhan tidak akan mengabulkan doa seperti ini, tapi kamu musti tau, doaku bukan sekedar doa biasa.
Atas nama Tuhan, aku ingin bersama denganmu merajut kehidupan, berkarya berdua bersama anak-anak dan cucu-cucu.

Malam ini dingin, apa ditempatmu melangkah juga punya hawa yang sama?
Dan kamu sedang melakukan apa? menjaga tidar, atau tersenyum menikmati wanita lain? atau sedang menghirup oksigen malam bersama angin?

Dimana langkah kaki dan apakah Tuan mau mengantarmu kesini? ke salah satu sisi ragaku. Menatapku dengan kemampuanmu mengingat, dan... (aku rasa Tuhan tau lanjutan kalimat tersebut)

Radit. dengan huruf A.
aku melihat senyummu di sebuah foto melalui dunia maya, dunia yang mendekatkan aku denganmu biarpun sebenarnya kita berdua jauh.
Aku ingin terhubung dengamu lagi, di dalam mimpi ini saat aku tertidur di dini hari. Aku ingin merasakan rasanya malam bersamamu, dengan lembah tidar, biarpun aku tau kau sedang tidak disana.

Jika kamu ingin tau mengapa aku begiu menggebu kepadamu adalah,
karena aku tidak pernah merasa bersalah dengan menyukaimu. Tidak perlu merasa salah tenggelam ke dalam samudera rongsok yang gelap.
Aku membutuhkanmu untuk membawaku kedalam danau semu merah itu yang paling bisa membuatku merasa tenteram.

Aku sudah berdoa kepada Tuhan, ingin segera dipertemukan dengan jodoh agar aku tidak salah memilih, tidak salah berlaku, dan tidak perlu takut orang ketakutan denganku lagi.
Aku ingin menjadi milikmu sepenuhnya.

Sabtu, 10 Desember 2011

tentang November

Seraya google-ing, saya putar kembali ingatan yang sempat direkam dalam jangka waktu satu bulan kemarin.
November, bulan yang mendung. Mendung yang malu-malu mau, kalau orang jatuh cinta itu disebut romantis.
sementara kalau orang yang patah hati, maka ini disebut November yang galau.

Tulisan ini sudah basi 10 hari daripada harusnya.
Sementara saya masih berusaha menyelesaikannya karena draft tulisan ini sudah tersimpan dari beberapa hari yang lalu.
Tiba-tiba dalam beberapa hari ini tidak ada kata-kata yang melewati selubungan rongga otak yang lemah, bahkan untuk memikirkan namanya saja, aku tidak punya ide.
Ini adalah otak yang paling suntuk yang berproduksi ketika dipaksa meludah.
Bukan salah bulan ini karena November adalah bulan yang manis, yang mendung romantis, yang salah adalah saya terlalu jauh melesat, kehilangan arah.

Bosan, muak, dan hasilnya adalah ini, saya mudah marah, mudah melamun, mudah berpikir antagonis.

Beberapa kutipan yang saya hasilkan selama November :

"Percaya saja, bahwa kita harus percaya kalau di dunia ini terdapat banyak orang jahat yang berbanding lurus dengan orang baik"

"Semua manusia itu berlaku tidak adil. Mereka cenderung selalu membaik-baikan diri ketika membutuhkan sesuatu."

Tapi ada sebuah karya yang saya tidak tau kenapa seabstrak ini,

"Lembah tidar. Senja. Tidur bersama rumput, diterpa semilir angin, hembusan udara yang manis. Bukannya tidak pernah mendengar, tapi aku pernah berpikir bahwa manusia tidak boleh disakiti. Sementara di dalam jiwa yang beku, hidup itu berlaga protogonis, padahal tidak sekalipun"

Saya merasa semakin antagonis belakangan ini.

"'Bukannya Tuhan sudah menyimpankan jodoh untuk semua halnya masing-masing? Lalu kenapa kita ketakutan? Sementara di luar sana, mungkin juga jauh, sudah ada seseorang yang sebenarnya bersama kita saling menunggu dan mengisi waktu sebelum pertemuan itu terjadi. Kita berdua hanya perlu sabar, agar hasilnya baik."

"Bersama Tuhan menyerbu dari Udara" -A,
"Prajurit = Berangkat tugas dianggap mati, hilang tidak dicari.." ~Kalau sampai hilang pengumuman tentangmu, itu yang aku tidak tau bagaimana cara mencarinya. Bukan kau, karena kamu masih saja ada disini.. didalam lubuk hati yang entah sudah sehancur apa. Aku juga tidak mengerti :("