Minggu, 27 November 2011

Seandainya

Aku membutuhkan pelukanmu disaat udara sepanas ini, bukan untuk memelukku, tapi untuk meniupkan semilir hembusan angin agar mereka pasti sampai didataran leherku yang licin karena keringat. 
Tulisan ini bukan jorok, seandainya aku meninggal sebelum aku menikah, maka aku akan sangat merasa bersalah pada orang tua dan seorang lelaki yang dulu sempat meminjamkan tulang rusuknya kepada Ibu dan ayah untuk menjadikan aku atas utusan Tuhan. Bukan apa-apa, tapi terlebih karena bahkan aku tidak bisa kembali untuk memenuhi kehidupannya.

Aku tidak pernah tau berapa lama Tuhan memberikan waktu bernafas didunia, apakah pernah diperpanjang atau dipotong, aku tidak pernah benar-benar tau.
Hanya saja yang masih aku tau adalah, kini aku masih diberikan kesempatan berpikir, sekeras mungkin untuk bisa mencari dia, seorang manusia tampan yang seharusnya memiliki aku sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.  Aku tidak tau kapan waktunya pertemuan itu berlangsung, yang aku ingin tau apakah lelaki yang sekarang ada di bayanganku adalah lelaki yang mampu menjaga aku sebagai tulang rusuknya. 

Sepanjang bayanganku ini hanya ada harapan, bahwa aku dan dia sekarang berada dijalan di arah yang berbeda, aku kepadanya dan dia kepadaku. Kami berdua berjuang sekuat tenaga, semata-mata mencari banyak harta karun untuk perekalan kita berdua sebagai Ibu dan Ayah.

Penungguan ini akan menjadi penungguan yang paling nikmat, yang pernah aku punya seumur hidup.
Aku, hanya bisa tersabar menunggu pertemuan kita berdua :)



Kamis, 24 November 2011

Manusia menilai Manusia

Manusia selalu begini, menganggap pribadinya adalah yang paling baik.
Pribadinya, mereka selalu merasa bahwa dirinyalah yang paling benar dalam segala hal yang telah ia buat dan pikirkan. Termasuk mengenai persepsi yang timbul di kepalanya tentang orang lain.
Manusia lebih mudah menilai orang lain daripada dirinya sendiri, menilai bahwa dirinya sudah benar sehingga menurutnya orang lain selalu salah.
Mungkin tidak selalu salah, tidak melulu juga merasa benar, adakalanya merasa salah, tapi walaupun begitu, setiap manusia selalu berpihak pada logikanya sendiri.

Ketika sedang saling bercerita tentang sesuatu kesalahan, semua manusia cenderung ingin dibela. Mereka selalu mencari penalaran yang pas agar orang yang mendengarkan cerita menganggap bahwa dirinya benar, selalu mencari kata-kata yang mampu membuat pendengar menjadi berpihak kepada diri sendiri.

Manusia selalu begitu, semua kelakuan yang dilakukannya ini adalah yang sesungguhnya tentang dia. Seperti apa pribadinya, ya seperti itu.
Tidak ada pribadi asli atau palsu. Semua yang terlontar dari perilakunya, termasuk kepada sikap dan pola pikir, ya itulah pribadinya. Ketika dia sedang membaik-baiki dirinya didepan orang lain, karena bukan "Jaga Image" melainkan, jaga image adalah bentuk kepribadiannya. Ketika dia melantunkan kata-kata kasar, pandangan sinis, dan perilaku buruk, itu juga bukan sifat aslinya, tapi memang begitulah kepribadiannya yang baru keluar ketika dia sedang merasa kesal atau marah, itu bukan berarti dia pemarah atau tukang pundung, tapi marah adalah kelakuan yang dimiliki semua manusia, dengan cara yang berbeda tentunya.

Manusia selalu punya alasan atas segala perbuatannya, selalu punya motif atas segala yang dilakukannya.
Manusia punya nalar, punya pikiran, dan selalu mempunyai  logika berbeda dari manusia yang lain.

Saya contohnya.
Yang juga begitu, juga selalu menanggap bahwa persepsi saya tentang hidup itu adalah persepsi yang paling sempurna. Yang menanggap bahwa apa yang saya lakukan adalah yang paling benar, acuh pada semua persepsi orang lain tentang hidupnya sendiri. Begitupun dengan pola pikir saya terhadap cara hidup orang lain.
Saya selalu merasa menjadi orang baik, padahal saya sedang diberikan peran antagonis dengan perasaan saya  tadi yang selalu merasa baik.

"Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan kelihatan"
Manusia lebih mudah menilai orang lain daripada menilai dirinya sendiri.

Semua orang selalu sok tua dengan menasehati orang lain-dengan cara yang menurutnya benar.
Termasuk saya selalu sok tua karena menanggap orang lain sok mengerti saya.

Sekali lagi, ke'narsis'an itu datang murni tanpa disadari, itulah narsis yang sesungguhnya yang selalu hidup didalam sanubari seseorang. Kita selalu berpikir bahwa kita yang paling benar dan pandangan orang yang tidak sejalan dengan kita itu salah.

Lain lagi namanya dengan mampu menerima pendapat orang lain, itu adalah efek lain yang keluar ketika kita merasa tidak bisa menghandle lagi pikiran rudet yang semakin membungkus saraf-saraf otak.

Sekali lagi, saya hanya berpikir begini, bahwa kejujuran hanya ada diantara kita sendiri dengan Tuhan. Niat baik juga hanya muncul dari diri kita sendiri kepada orang yang kita kehendaki, dan juga ini berlaku hanya untuk diketahui Dia. Kelakuan kita biar Tuhan yang menilai, orang lain menasehati dengan caranya masing-masing. Kita membutuhkan penilaian orang lain, tapi bukan untuk merasa dipojokan.

Saya paling bisa menilai orang, tapi tidak bisa mengemukakannya. Begitulah sepertinya karena setiap ditanya teman tentang kepribadian buruknya apa, saya selalu tidak bisa menjawab. Atau terlebih karena saya cuek dan kurang perhatian mungkin.
Sering terpikir dibenak saya, tiba-tiba terlintas begitu, "kayak sendirinya engga aja deh!" waktu melihat atau mendengar cacian orang terhadap orang lain, yang tanpa saya sadari, seharusnya 'cermin' itu juga ditujukan kepada saya.

Menururt Ernest Hocking, Manusia adalah hewan yang memiliki rasa moral, sehingga ia bisa merasa sakit hati. Nah, karena itulah wajar seandainya ada orang yang sedikit merasa menyesal. Itu bukan pertanda dia pasti sedang mengeluh, belum tentu. Salah satunya adalah karena mungkin rasa penyesalan membuat ia sadar bagaimana caranya nanti ketika ada keadaan yang sama.

Manusia, menurut saya (dan saya pikir ini benar) boleh saja mengeluh, itu menjadi wajar, karena manusia memiliki tenaga yang terbatas, ketika lelah, lalu bilang lelah, itu tidak pernah salah. Setidaknya dia tidak berpura-pura kuat.

Yang terpenting adalah, (lagi-lagi ini subjekif dan pandangan ini benar menurut saya) Manusia harus sabar. Emosi yang tidak terbendung menandakan dia sudah tidak mampu menahannya, marah ketika kesal, mengeluh ketika lelah, menangis ketika tidak mampu mengobati, adalah cara-cara yang boleh dilakukan untuk menyeimbangkan psikisnya, dan itu wajar.

Bukannya tidak sependapat, terkadang rasa kasihan orang membuat saya berpikir bahwa saya benar-benar lemah dan itu membuat saya merasa kesal.
Saya membutuhkan support yang tidak mengasihani, tapi yang mendukung agar saya bisa menjalaninnya.
Tau tidak? menurut saya, yang paling berat dari sebuah kejadian adalah mengingkari apa yang orang lain lihat, sementara semua orang yang hanya melihat selalu menganggap bahwa sebuah keadaan itu sesuai dengan pengelihatannya.

Manusia perlu sadar diri sebelum mengkritik orang lain.
Orang membutuhan pengalaman yang benar-benar sama supaya mereka bisa merasakan apa yang tidak disukainya kepada orang lain.

"Manusia lain memang mengerti, tapi mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya bila jadi kita dan kita tidak perlu memberitahu orang-orang tentang apa yang benar-benar kita rasakan. Banggalah karena telah menjadi diri sendiri, yang mampu menyimpan rahasia dengan baik"

Pengalaman membuat kita belajar.
Sekali  lagi, ini adalah tulisan yang subjektif. Saya merasa ini benar, tapi mungkin tidak begitu bagi anda.
dan kita harus saling menghargai soal itu. :D

Sabtu, 19 November 2011

Well, is offset

"Cinta bukan hanya sekedar bisa membuat tertawa, atau bisa membuat tersenyum. Karena cinta tidak hanya sekedar berarti bersenang-senang. Cinta merangkaikan segala hal dalam satu hal, yaitu hak untuk menerima orang dengan segala hal yang dimilikinya. Pendiam kah dia, periang kah dia, the most wanted to looking for the laugh, atau apakah dia romantis atau tidak, baik atau tidak, pintar atau tidak, kaya atau miskin, sombong atau tidak, angkuh atau tidak, atau, keras kepala atau tidak.
Cinta adalah perasaan yang memberikanmu hak untuk menerima seseorang tanpa alasan yang jelas.
karena untuk mencintai, kita tidak membutuhkan alasan."

Satu, dua, tiga, dan ini kali keempat wajahnya muncul dikepala saat sedang mengendarai motor menuju ke kampus. Dan saya cuma bisa nyanyi "I don't wanna close my eyes.. I don't wanna fall asleep.. couse I'd miss you Babe, and I don't wanna miss a thing.. Even when I dream of you.. the sweetest dream will never do, I'd still miss you babe, and I don't wanna miss a thing".. dan terlebih menjadi like a fucking crazy trouble to related with his body~~~

Berapa lama saya tidak bertemu dengan dia, sempat tiga tahun bahkan 'tidak' (dalam artian tidak benar-benar) teringat, dan walaupun bertahun-tahun harapan itu selalu sama, -saya dan dia bertemu disebuah pertemuan yang tidak sengaja, lalu dia menyapa dan hubungan kami dimulai melalui pertemuan yang tidak disengaja itu.

Mungkin akan banyak orang yang tidak mengerti dengan cerita yang kelihatannya 'fiksi' ini. Ada yang bilang ini sebuah obsesi, tapi, mungkin saja.

Kemudian ketika mp3 HP memutar lagu lain, saya ikut melantun lagi "because when I'm with him, I am thinking of you.. thinking of you, what you would do if, you were the one who was spending the night, I wish that I.. was looking in to your eyes.." 

Yang paling gila ketika masuk kepada lirik ini "You're like an indian summer in the middle of a winter like a hard candy with a surprise center.. How do I get better once I've had the best, you said there's ton of fish in the water so the water I will test.. He kiss my lips I taste your mouth, he pulled me in I was disgusted with my self.." saya menjadi benar-benar terbayang dengan dia.

Berkali-kali hingga terus dalam beberapa waktu belakangan ini.
ini harapan dari Tuhan atau dari Iblis? :|

Sekitaran beberapa bulan yang lalu, saya pernah bermimpi. Mimpi yang didalamnya terdapat titikan harapan karena bunga tidur itu 'seperti' menyampaikan pesan yang memang saya tunggu-tunggu.
Jawaban itu, yang tidak saya tanyakan, "Aku ingat kok, aku jadi merasa bersalah, nanti kita janji ketemu ya. Sekarang aku harus pergi dulu."


Dan selalu setiap hujan saya mencari pertemuan hujan itu.
Seperti hari Kami kemarin, saya tau dia sedang berada di Bandung, bukan untuk menemui saya tentu, dan saya berada dijalan yang sama, beriringan. Saya hanya tau, entah kenapa merasa begitu yakin, bahwa didalamnya ada dia dan kami berdua sedang terhubung.

"Hujan menemukan kita didalam sebuah kondisi biarpun itu mimpi,
dan semua hal yang aku lewati di jalan itu membuat aku benar-benar teringat kepadamu. Cinta tidak membutuhkan alasan, aku hanya sedang bersabar, sabar menanti pertemuan kita berdua yang sudah Tuhan atur. :) "

~~begitulah rasanya...


Selasa, 08 November 2011

12 November 2011

Setiap bulan ada saja kesibukan baru datang, lalu kamu kapan datang?

Aku pernah membaca sebuah projek musikalisasi sastra fiksi mengenai Rindu. Disana tertulis bahwa ada dua macam rindu. Yang merindu karena pernah merasakannya dan menginginkannya kembali, sedang kemudian ada rindu yang hadir karena kita tidak pernah merasakannya dan benar-benar ingin merasakannya, dan rindu itu adalah rindu dengan penungguan yang setia.
Kita berdua ada dirindu yang itu, yang kedua.
Atau aku yang merindukanmu seperti itu.
Menginginkan dirimu datang secepatnya tanpa punya rasa malu, bergeming perasaan ini adalah perasaan yang suci. Bukan sebuah harapan-harapan dari setan. Biarpun aku tidak pernah benar-benar tau.

Aku merindukanmu, yang tidak pernah benar-benar muncul disini, didepan mataku selama enam tahun.
Yang tidak pernah muncul disini, di kotak masuk telepon selular hitam ini. Yang tidak pernah muncul disini, disetiap pertemuan-pertemuan yang aku kejar karena ingin melihatmu.

Kita tidak pernah bersama, tapi banyak hal yang mengingatkanku dengan semua kondisi-kondisi itu.
Gatot Subroto, Burangrang 8, Elang-Cicadas, Gedebage, bau shower to shower biru, tas bundar hijau, turangga, buku kenangan, seragam, sampai Seskoad. Konser musik itu juga, ketika aku melihatmu bersama mic dan gitar, dan yang terpenting adalah facebook yg tidak tau mengapa Tuhan membuatku menemukannya ._.

Dalam waktu dekat kau akan hadir di bendungan ini, di Bandung. Walaupun jarak tempatmu hadir akan jauh dari sini, atau dari mall, atau kemungkinan untuk sampai mall itu adalah sulit, tapi ada harum harapan yang hadir. Sekarang sudah musim hujan lho, dulu kamu berjanji dipertengahan hujan untuk mengajakku bertemu, *tiba-tiba teringat kesana* dan aku masih mengharapkan yang sama.

Salah satu peramal yang merupakan temanku itu pernah bilang, "Vik, kamu jangan nyari yang ga jelas, sekeliling kamu juga banyak, walaupun, iya sih kalo ga suka ga usah dikasih harepan," nah.
Berapa kali aku harus meyakinkan diri bahwa kamu adalah sesuatu yang tidak jelas, sehingga nanti bisa aku melupakan caraku penasaran denganmu dengan menyudahi harapan untuk memiliki hidup bersama dengan anak-anak kita berdua.

Harapanku untuk bisa bertemu denganmu dan berjalan seperti itu, lebih besar daripada harapan untuk melupakan harapanku itu.

~mimpi sinyal :|