Minggu, 09 Oktober 2011

pesan singkat yang tidak pernah sampai

Menangis dilakukan ketika kepedihan tidak bisa ditahan, atau ketika rasa haru tidak bisa dibendung. Sementara jika harus tertawa, aku melakukannya ketika tidak bisa menahan rasa lucu, atau ketika aku tidak tau harus melakukan apa saat sedang tidak bisa menangis karena merasa tersiksa.
Itu lain jika dihubungkan dengan dia. Maka jika aku harus menangisinya, bukanlah pertanda aku merasa pedih, tersiksa, apalagi haru. Itu melainkan karena aku heran. Heran kenapa mesti hubungan ini terbatas angan-angan. Terbatas jarak, dan aku tidak tau kenapa perasaan ini terbang-tenggelam-di dalam lembah tidar.
Jika sekarang kiranya aku berbicara tentangmu, berarti itu salah karena sebenarnya tidak.
Aku terlalu lama antusias hingga lupa diri, lupa waktu.
Lupa lagi caranya mencintai diri sendiri.
Lupa alasan kenapa aku mencintaimu hingga ketika aku ingin menghapusnya, aku juga jadi tidak tau bagaimana caranya.
Tapi kemudian ada angin berhembus dari barat daya.
Dan aku tidak tau apakah harus bersikap sebagai perahu yang rela diombang-ambingkan, atau menjadi nahkoda yang tau akan berlabuh dimana, atau bahkan, aku harus jadi ombak, yang menepis arah.
Mencarimu adalah hal yang lebih sulit daripada menyelesaikan rasa rindu. Aku sudah menulisnya berkali-kali.
dan lebih sulit lagi menerima rindu yang jika harus bertemu, kau tidak mengenalnya.
Aku pernah berdoa pada Tuhan, jika aku bukan yang baik untukmu, aku ingin diubah menjadi yang baik bagimu.
Setidaknya ada tetesan harapan dari doa biarpun tidak mesti dikabulkan, walaupun jika aku egois, aku ingin Tuhan menurut begitu.
Tapi bodoh, mana ada Tuhan patuh pada manusia!
Lalu aku mengganti doaku,
kirimkan laki-laki terbaik buatku, dan jadikan aku yang terbaik baginya.
dan aku masih berharap, itu kau.

Aku pernah gelisah melihat namamu hingga tiada tau ingin melakukan apa.
Jika ada harapan palsu, aku juga yakin ada kemungkinan itu adalah kau.
Tapi aku suka menjadi bagian dari otak kanan, yang ingin memastikan bahwa semua imajinasi positif, mampu terjadi. Karen itulah Tuhan yang positif, yang bisa melakukan apapun hanya dengan tunjuknya.

Lalu apakabar dengan barat jika semua pembicaraanku adalah dengan engkau?
"hahaha"
aku hanya bisa menahan rasa siksa dengan tertawa.
Aku pernah mengganti orang untuk aku suka, tapi mereka dibatasi kaca hitam.
dan kita berdua selamanya tidak akan pernah bisa bersama hanya karena alasan klise.
Kalau begitu percuma, lalu aku kembalikan perasaanku untuk si penunggu lembah tidar.

Selalu ada harapan disetiap do'a, selalu ada celah disetiap usaha, gesitlah, maka peluang terjadi menjadi besar.
Ini tentu buatku, dan buat semua orang ingin berjuang.
dan aku ingin bilang,
bahwa pesan singkat yang tidak pernah sampai ini adalah tentang apa yang tidak pernah kau sampaikan.

bahwa,
kau pernah menarikku melalui matamu yang tegas, yang seperti burung elang. Sekalipun tidak pernah menenangkan aku, karena begitulah aku tidak pernah tenang selama tidak melihatmu.
Jika Tuhan memaksaku menunggumu dengan sabar, aku linglung.
Karena mencarimu memberikan peluang untukku untuk sama-sama saling menyampaikan pesan ini.

"Tuhan, aku punya harapan bisa melayaninya dengan pelukanku yang paling erat dan hangat, dengan kecupan yang paling mesra, dengan pandangan yang paling lembut, dengan senyuman yang paling berbinar, dan dengan semua hal yang tidak pernah aku berikan untuk orang lain."

kabulkan ya?
amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar