Jumat, 28 Oktober 2011

hujan romantis

Hahaha. 
Mari kita mulai dengan tertawa, sedikit tersenyum dan melepas ratusan tetes air mata. 
Percaya atau tidak, dengan mata sembab dan hidung merah, saya menulis sebuah khayalan manis mengenai Hujan.

Aku tidak suka hujan, tapi lebih suka hujan daripada panas matahari.
Aku benci hujan, tapi lebih benci kalau sudah kehujanan.

Rasakan saja, hari ini begitu tidak menentu, kemarin malam lebih tidak menentu, malam ini juga.
Kemarin saja sore aku merasa kedinginan.. Dini hari tadi malah tidak bisa tidur karena merasa gerah, 
dan sekarang, aku bingung merasa apa, walaupun aku tau sebenarnya aku masih merasa kepanasan.

Kepanasan apa ya?
dengar cerita teman? atau kegerahan dengan semua kegiatan?
yang aku tau cuma satu,
bahwa tadi baru saja aku berkhayal mengenai suatu kondisi.

Mungkin malam ini tidak akan panas jadinya, kalau aku tadi ada di luar, sedang berjalan diramaikan rintikan romantisnya hujan yang meromantiskan keadaanku dengan seorang pria dengan tubuh tegap, gagah.
tidak perlu disebutkanlah siapa namanya, karena aku tidak pernah berkhayal bersama laki-laki lain (wajah samar senyum kaku).

#justforfun

Selasa, 18 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011

hasil layout SMS edisi 3 :D

Iya sih cuma 4 halaman doang, tapi cukup senang buat layout edisi sekarang karena buatnya gak pake riweuh dan rusuh, hasil orisinil, dan ternyata kakak senior saya juga puas liatnya. Yeaah \m/ semoga terus begini karyanya, gak pake teledor kyk waktu awal-awal kerja dulu :D

*)


(*) Buletin Suara Mahasiswa Selembar ini sudah di terbitkan dan sirkulasi sudah berjalan di Universitas Islam Bandung :D

Minggu, 09 Oktober 2011

pesan singkat yang tidak pernah sampai

Menangis dilakukan ketika kepedihan tidak bisa ditahan, atau ketika rasa haru tidak bisa dibendung. Sementara jika harus tertawa, aku melakukannya ketika tidak bisa menahan rasa lucu, atau ketika aku tidak tau harus melakukan apa saat sedang tidak bisa menangis karena merasa tersiksa.
Itu lain jika dihubungkan dengan dia. Maka jika aku harus menangisinya, bukanlah pertanda aku merasa pedih, tersiksa, apalagi haru. Itu melainkan karena aku heran. Heran kenapa mesti hubungan ini terbatas angan-angan. Terbatas jarak, dan aku tidak tau kenapa perasaan ini terbang-tenggelam-di dalam lembah tidar.
Jika sekarang kiranya aku berbicara tentangmu, berarti itu salah karena sebenarnya tidak.
Aku terlalu lama antusias hingga lupa diri, lupa waktu.
Lupa lagi caranya mencintai diri sendiri.
Lupa alasan kenapa aku mencintaimu hingga ketika aku ingin menghapusnya, aku juga jadi tidak tau bagaimana caranya.
Tapi kemudian ada angin berhembus dari barat daya.
Dan aku tidak tau apakah harus bersikap sebagai perahu yang rela diombang-ambingkan, atau menjadi nahkoda yang tau akan berlabuh dimana, atau bahkan, aku harus jadi ombak, yang menepis arah.
Mencarimu adalah hal yang lebih sulit daripada menyelesaikan rasa rindu. Aku sudah menulisnya berkali-kali.
dan lebih sulit lagi menerima rindu yang jika harus bertemu, kau tidak mengenalnya.
Aku pernah berdoa pada Tuhan, jika aku bukan yang baik untukmu, aku ingin diubah menjadi yang baik bagimu.
Setidaknya ada tetesan harapan dari doa biarpun tidak mesti dikabulkan, walaupun jika aku egois, aku ingin Tuhan menurut begitu.
Tapi bodoh, mana ada Tuhan patuh pada manusia!
Lalu aku mengganti doaku,
kirimkan laki-laki terbaik buatku, dan jadikan aku yang terbaik baginya.
dan aku masih berharap, itu kau.

Aku pernah gelisah melihat namamu hingga tiada tau ingin melakukan apa.
Jika ada harapan palsu, aku juga yakin ada kemungkinan itu adalah kau.
Tapi aku suka menjadi bagian dari otak kanan, yang ingin memastikan bahwa semua imajinasi positif, mampu terjadi. Karen itulah Tuhan yang positif, yang bisa melakukan apapun hanya dengan tunjuknya.

Lalu apakabar dengan barat jika semua pembicaraanku adalah dengan engkau?
"hahaha"
aku hanya bisa menahan rasa siksa dengan tertawa.
Aku pernah mengganti orang untuk aku suka, tapi mereka dibatasi kaca hitam.
dan kita berdua selamanya tidak akan pernah bisa bersama hanya karena alasan klise.
Kalau begitu percuma, lalu aku kembalikan perasaanku untuk si penunggu lembah tidar.

Selalu ada harapan disetiap do'a, selalu ada celah disetiap usaha, gesitlah, maka peluang terjadi menjadi besar.
Ini tentu buatku, dan buat semua orang ingin berjuang.
dan aku ingin bilang,
bahwa pesan singkat yang tidak pernah sampai ini adalah tentang apa yang tidak pernah kau sampaikan.

bahwa,
kau pernah menarikku melalui matamu yang tegas, yang seperti burung elang. Sekalipun tidak pernah menenangkan aku, karena begitulah aku tidak pernah tenang selama tidak melihatmu.
Jika Tuhan memaksaku menunggumu dengan sabar, aku linglung.
Karena mencarimu memberikan peluang untukku untuk sama-sama saling menyampaikan pesan ini.

"Tuhan, aku punya harapan bisa melayaninya dengan pelukanku yang paling erat dan hangat, dengan kecupan yang paling mesra, dengan pandangan yang paling lembut, dengan senyuman yang paling berbinar, dan dengan semua hal yang tidak pernah aku berikan untuk orang lain."

kabulkan ya?
amin.

Selasa, 04 Oktober 2011

tulisan manja dengan "aku"

Jika aku ditanya begini,

"kamu mau jadi apa?" atau "apa cita-cita kamu?"

maka dalam hati aku menjawab begini,

"aku ingin menjadi istrinya, istri seorang prajurit TNI. Aku ingin menjadi ibu dari mereka, tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Aku ingin menjadi seorang penulis, yang menulis puluhan buku, salah satunya adalah mengenai keluargaku sendiri, terutama tentang, seberapa kami hidup bahagia"

atau, aku mungkin akan menjawab begini, 

"Aku ingin menjadi istrinya, istri seorang lelaki bertanggung jawab yang tangguh dan tidak mudah menyerah, yang selalu berusaha mengejar mimpinya sekuat tenaga. Aku ingin menjadi ibu dari mereka, anak-anak hebat yang lucu dan disukai banyak orang. Aku ingin menjadi seorang pengusaha, pengusaha yang bergerak dibidang desain, interior, atau arsitektur, biarpun aku tidak mahir"

atau, aku juga mungkin saja menjawab begini,

"Aku hanya ingin menjadi aku, apalah aku nanti biarlah aku sendiri yang meneguhkannya didalam hatiku. Orang lain tidak perlu tau, aku hanya berharap mereka mendoakanku supaya aku sampai. Karena apakah kamu tau? aku seringkali merasa ragu ketika ada pertanyaan seperti ini, ragu mengenai aku ini ingin jadi apa"

Begitulah.
Aku kira dulu sempat sangat menggebu ingin menjadi seorang Jurnalis.
Sekarang juga aku masih sangat. ---tidak perlu aku sebutkan apakah aku masih menggebu atau tidak.
sekali lagi, biarkanlah aku meneguhkannya sendiri supaya aku teguh, itu saja.
Yang pasti, dunia yang sekarang sedang aku jalani adalah dunia yang pernah aku impikan dan aku sangat bersyukur bisa ada disini.
Tidak perlu takut gajiku akan sedikit, atau aku harus ketakutan karena seringkali ada ancaman untuk para pembawa berita, biarpun mereka sepertinya memandang dunia aku ini sebelah mata. Yang aku sadar adalah bahwa, aku bahagia menjadi seperti sekarang biarpun seringkali terasa ragu, dan keraguan itu tertepis karena cara kalian yang terlihat seperti "menyemangatiku" padahal kalian "mencibirku". Aku hanya perlu begini didalam hati, bahwa aku sedang teguh terhadap apa yang ingin aku jalani. Jika tidak menjadi wartawan, maka aku sangat bersyukur karena pernah menjadi Jurnalis. Dan aku ingin menulis banyak buku, karena aku adalah seorang Jurnalis. Jurnalis, sebuah profesi yang tidak menjadi cita-cita idaman para manusia yang penakut. -biarpun aku sebenarnya adalah seorang penakut dan manja.

No rasis.

Aku ucapkan sekali lagi,
mimpiku ingin jadi apa, biar aku simpan sendiri. Aku tau Ibu dan Ayah mengerti. Aku sayang mereka dan banyak hal yang ingin dan harus aku lakukan terhadap mereka, dan aku akan melakukan itu.
Bukan ambisius, tapi sejalan dengan takdir Tuhan, seraya sang Khalik menghubungkan perjalananku untuk bertemu dengan jodoh, aku yakin, pundi-pundi kasih sayang untuk Ibu dan Ayah dari Tuhan juga ada di pundakku.

Aku bilang pada Ibu, doakan aku supaya jodohku baik.
Sebaik yang aku pikirkan, aku impikan.
Tapi jika begitu tidak, aku percaya rencana Tuhan selalu lebih baik daripada rencanaku.

Aku hanya berusaha, berusaha untuk memperjuangkan mimpiku.
Menjadi seorang Istri, seorang Ibu, dan menjadi seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua. orang tuaku dan orang tua suamiku kelak.

Jika ada yang bilang ini sudah jaman "emansipasi wanita",
maka aku akan bilang, 
"beruntung aku dilahirkan sebagai wanita, aku punya kesempatan untuk hanya tinggal dirumah, mengurus suami dan anak-anakku, sementara lelaki tercintaku itu pergi disiang hari untuk menghidupi kami semua, karena aku yakin, dia mampu"

Aku ingin menjadi seorang Annisa Vikasari.

Amin.