Sabtu, 16 Juli 2011

world without glasses

Menjadi manusia berkacamata adalah kesalahan terbesar.
Kenapa?
Karena hanya dengan berkacamata, saya baru benar-benar bisa melihat si ganteng dengan jelas.
Karena hanya dengan berkacamata, saya baru benar-benar bisa melihat untaian huruf-huruf manis di papan tulis, di widescreen, di bioskop, semua, termasuk huruf-hururf manis penunjuk jalan.
Karena hanya dengan berkacamata, saya bisa menutup kaca helm waktu pulang malem,
dan karena hanya dengan berkacamata, saya baru bisa berjalan tanpa pake mengerutkan kening bermaksud memfokuskan pandangan.

Ini mungkin adalah efek dari keseringan belajar rumus dulu waktu SMA, jadinya begini. minus mata nambah, nambah, dan nambah.
Sekarang, 1,5 dan 1,75. untungnya tidak plus silindris. Tuhan masih baik.

Saya dua kali punya kacamata, kacamata pertama adalah sewaktu duduk di tingkat dua atau tiga SMA. Tapi gagal hubungan mesra itu berlanjut, kacamata kotor, rusak. Saya lalu menyimpanny saja begitu dirak buku, terkulai di lemah tak berdaya, tidak berguna. useless.
Kedua, itu waktu masuk semester tiga. Kacamata kali ini, saya ingin menjaganya dengan baik (niatnya begitu).
Dari jaman SMA, kacamata emang hobi saya naikin ke atas kepala (gaya kayak kalo lagi dipantai) menghalangi poni agar tidak turun, berikut salah satu cara agar saya tidak menyimpannya dimana saja ketika malas berkacamata. Masalahnya, biarpun dengan kacamata dunia menjadi lebih jelas, tapi dunia menjadi seperti gambar bergerak, hanya terlihat melalui bingkai dan kaca. that's horrible. Saya berhasil menjaganya sampai semester 4, tapi dipertengahan, saya menginjaknya hingga gagangnya patah. Alhasil, kacamata itu saya bawa ke dokter, diperiksa dan kemudian ditambah min nya karena sudah naik katanya. Juga diganti gagangnya.
Dua hari saja, lalu kacamata sudah kembali lagi, rindu. Dunia sangat jelas waktu itu.

Saya kelamaan menjadi mencintainya, kacamata itu dengan frame hitamnya. Tapi sayang, dia dimiliki leh seorang yang sangat teledor, saya. Sehingga saya yang katanya mencintainya itu, sering menelantarkannya. Meninggalkanya dimana saja, membiarkannya tergolek dimanapun, biarpun akhirnya saya akan kembali ingat dimana dia berada, kemudian merengkuhnya.
Tapi bodoh.
Saya kembali menyia-nyiakannya.
Entah ini Tuhan yang membuatnya seperti ini, atau dia yang sudah tidak kuat dengan sikap cuek saya, sehingga dia kabur.

Baru saja, tadi siang. Tak pernah saya menyangka akan berpisah dengannya bukan karena dia sakit ataupun mati, tapi karena kebodohan saya yang membiarkannya tertinggal entah dimana. :'(

Sekarang saya baru sadar, bahwa saya sangat mencintainya, mencintai kacamata itu.


"Kacamata, biarpun kamu adalah benda tak hidup, tolong maafkan aku karena telah sering melupakanmu. meninggalkanmu dimana saja, membiarkanmu tergulai di lantai dan meja tanpa aku pedulikan sedikitpun.
Kamu berada dimana sekarang? aku hanya bisa membayangkanmu berada di suatu tempat, kedinginan, terpikir bahwa aku sangat jahat meninggalkanmu diluar sana sendirian, dan kamu menangis.
Maafkan aku karena kita tak bisa lagi bertemu, aku yang tidak menemukanmu. Tapi jika ada saatnya kita bertemu, dan ada orang tau kalau kita adalah sepasang kekasih, aku pasti akan sangat senang. Tak akan lagi aku menyia-nyiakanmu seperti ini. Aku rindu, maaf yah. Semoga kau ditemukan orang baik, yang kemudian akan menjagamu lebih baik dari caraku menyayangimu"

Saya tau tulisan ini lebay, saya memang lebay. Biarkan. Tak peduli.
:'(


Tapi aku ingin tenang, aku akan membiarkanmu berjalan kemanapun kau suka, menjelajahi dunia ini bersma lensamu. Semoga kau selalu senang, kacamataku. :)
Saya dan kacamata kebingungan :p

Saya dan kacamata ketika tersenyum :)


Saya dan kacamata ketika takut dan tidak mau :(

Saya dan kacamata ketika autis x_x

Saya dan kacamata ketika berolahraga :D

Juga saya dan kacamata ketika bersama Uki, jodoh  yang dipisahkan Tuhan melalui jodohnya masing-masing.
Kacamata selalu setia, saya yang tidak. 
I need my glasses. I can't see without my glasses!!!!!
selalu bilang gitu kalo ga ada kacamata. :((
                                                                                      
enough. Insya Allah saya rela. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar