Sabtu, 07 Mei 2011

Ulang Tahun Papa

Jadi begini, dalam beberapa waktu terakhir, kehidupan saya memang sedang dalam keadaan terburuk. Kualitas iman menurun, mood tidak pernah lebih daripada nilai lima, kuliah sangat keteteran, banyak melupakan tugas dan jam kuliah, kesibukan organisasi padat merayap, hubungan pertemanan tidak lancar, bahkan hubungan saya dengan keluargapun, sangat kaku sekali. Bukannya menyalahkan orang lain, karena ini pure, kesalahan saya pribadi, dan saya mengakui hal itu.
Khususnya, saya merusak hubungan dengan ayah yang sudah kaku itu, hanya karena saya di tanya beliau. Itu adalah malam terburuk, karena saya benar-benar diluar kendali.
Entah karena saya sedang dalam keadaan yang kacau, atau bagaimana, tapi pertanyaan beliau saya anggap sebagai sentakan yang keras. Mungkin karena kampus yang sedang tidak bersahabat sama sekali, kondisi keluarga yang juga sedang menghadapi masalah besar, dan ditambah hal-hal lain yang juga ikut memprovokator mood saya untuk tetap berada dititik nol.
Saya waktu malam itu, sekitar jam sebelas, mengirim pesan singkat sebanyak 3 karakter kpd nomer HP Ibu, isinya lebih kepada curhatan mengenai kejengkelan saya pada Ayah. banyak hal saya bicarakan disana, termasuk saya yang meminta support orang tua, bukan dipepatahi seperti ini terus. bla bla bla.
Saya menangis dan banyak mengeluarkan air mata, hingga akhirnya tertidur dan tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Ibu mengetuk kamar. Saya melihat ke arah jam, jam 00.30. Ayah saya yang memanggil, katanya.
Saya dan Ayah mengadakan pertengkaran yang hebat malam itu, dibilang durhaka, mungkin boleh juga, tapi saya hanya melampiaskan semua perasaan kurang saya terhadap ayah, saya bilang, ini bisa disebut sebagai pendapat dan saran. Kejadiannya berlangsung setengah jam saja, dan saya kembali ke kamar, dan tertidur.
Saya dan beliau menjalani hari-hari yang semakin kaku, ketika di meja makan, kami tidak berbicara sedikitpun, saya dengannya bahkan, tidak banyak berbincang.

Namun, ketika mood saya mulai membaik, dan suasana saya yang akhirnya bisa meledak, pikiran juga menjadi sedikit jernih, saya hanya tersadar bahwa saya yang terlalu kekanak-kanakan. Terlalu egois dan yang paling kental adalah, antara saya dan beliau terjadi miss komunikasi.
Saya terlalu banyak menyalah artikan semua yang beliau lakukan pada saya, dan begitupun beliau.
Saya hanya seharusnya yakin, bahwa apa yang dia lakukan, semuanya, bukan karena beliau ingin saya menjadi seperti apa yang diinginkannya, melainkan dia hanya ingin menjamin saya bisa menjadi apa yang saya mau, tanpa saya harus terjerumus ke dalam hal lain yang mungkin dapat merusak msaa depan saya.

Karena itulah, saya sebagai orang yang paling ingat hari ulang tahunnya di rumah, berniat mencairkan suasana beku ini. Sembari memikirkan pembicara yang tak kunjung pasti untuk mengisi acara yang diketuai oleh saya, di KMJ, saya hanya bisa berpikir, bagaimana caranya agar saya bisa berbaikan dengan Ayah di hari ulang tahunnya yang ke 53 di tujuh Mei ini.

Tanggal enam, setelah semua urusan kampus terselesaikan, niatan yang sudah rapi di pagi hari untuk mencari kue tart itu, harus terjadi. Saya sedang dalam mood yang baik malam itu, bahkan ketika saya harus mencari tambal ban di daerah Dago untuk menambal ban yang bocor. sepertinya Tuhan sedang berada disamping kanan kemarin, tidak ada sedikitpun kesal, bahkan.
Selanjutnya, ketika sudah beres menambal ban, saya mencari kue di Kartikasari, saya melihat kue yang manis bentuknya, harganya 145 ribu. Tapi, isi dompet tidak memungkinkan. Saya lalu melanjut ke tempat lain padahal saya tidak tau harus kemana, lalu, Icha, yang ayahnya ulang tahun di tujuh Mei juga, menyarankan saya untuk ke toko kue, Tabitha, di jalan sunda.
Saya tidak berpikir dua kali, waktu saya ulang tahun ke 17, sahabat-sahabat saya menghadiahkan kue tart yang juga dari tabitha, dan ayah suka kue itu. Saya lalu menuju ke jalan sunda, biarpun saya tidak benar-benar yakin berada di jalan yang benar. Setelah akhirnya menemukan jalan sunda, malam itu, saya berniat menelepon icha, menanyakan di dekat mana tempatnya, tapi sebelum niat itu terlaksana, saya melihatnya, papan nama itu. Saya sontak tersenyum, dan akhirnya menemukan toko kue ini.
Saya memilih kuenya sendiri, untuk Ayah.
Malam itu, benar-benar gila, saya membeli kue dan harus membawanya sendiri, padahal saya mengendarai motor. Entah bagaimana terjadinya, akhirnya saya mengendarai motor dengan hanya tangan satu, pokoknya sebisa mungkin agar kue ini tidak rusak. dan Alhamdulillah, saya sampai dirumah dengan selamat, begitupun dengan kuenya. :D

Saya meluncurkan rencana untuk pagi harinya. ini kue, harus saya yang bawa, sebagai ungkapan cinta saya dan permintaan maaf.
dan..


"HAPPY BIRTHDAY OUR BELOVED DADDY .. :)
kuenya mungkin tidak mahal, bahkan tidak lebih mahal daripada yang orang lain berikan, tidak berbentuk hati, tapi ini benar-benar dari hati. Saya mengusahakannya, sebagai ungkapan sayang dan rasa butuh saya sama Papa yang tiada pernah berhenti. Biarpun ini adalah hidup saya, dan saya harus mengusahakannya sendiri, tapi walau bagaimanapun, saya adalah anak yang selalu harus bertanya mengenai pendapat orang tua, sebagai orang yang paling mencintai saya dibandingkan semua orang yang pernah dan sedang mencintai saya. Vika sayang sekali dengan Papa" 

My Lovely Daddy, 53th Birthday ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar