Sabtu, 14 Mei 2011

kuda-kuda coklat


aku menunggumu diwaktu-waktu yang sepi


tidak pernah berhenti biarpun ketika dinginnya hari dini telah menyentuh jari jemari, betis, dan paha


kau berada ditempat yang jauh disana, di lembah tidar, di lembah para dewa, di lembah hutan tua
kakimu hampa tidak berotot, tulangmu adalah rapuh tidak berkasih, kau sedang lumpuh


kuda-kuda coklat menyeringai nyengir
kacamatanya jatuh menepi ke darat yang basah
dia lupa harus berangkat kemana
jalan yang terlihat dimatanya sudah bebas 
kau bebas


waktu-waktu kosong menghilang bias membisu
terbang mengepakkan jarum-jarum serta bunyi detiknya
kau
masih juga bisu


penungguanku tak pernah berakhir
masih disini ditempat yang sama dalam kotak yang sama
aku hanya sekedar menunggu 
menunggu kereta kuda datang
tak sekalipun berusaha memanggilnya


aku dan dirimu entah bagaimana
adalah hal yang sama-sama mencari pada bagian yang tidak terlihat
atas nama cinta yang tidak pernah bisa disebutkan


hai manusia yang gagah
patutkah aku berdiam bergaun coklat emas manis dengan rambut panjang dan mata berbinar
seoles garis mata ditambah bercakan merah muda di atas pipi meminyakan bibir 
terlesu tersenyum dalam keadaan teranggun


kau dan aku
adalah waktu yang dipisahkan Tuhan
tidak pernah bisa berisi


selain harapan-harapan
yang Tuhan harapkan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar