Minggu, 15 Mei 2011

Belajar bahasa Inggris

Sebelumnya, mari kita ucap Basmalah,
"Bismilahirohmanirohim"

Belajar bahasa Inggris, siapa yang tidak mengenal Inggris? saya. Saya belum pernah kesana, belum pernah kenalan sama orang Inggris juga, dan yang paling penting adalah saya bukan orang Inggris, tentu karena saya adalah anak kelahiran asli Sunda-Jawa, Indonesia. Alhamdulillah.
Nah, itulah yang membuat saya tidak mengerti sampai sekarang, mengapa saya harus belajar bahasa Inggris supaya bisa menjadi nilai plus saya di dunia kerja, padahal, bahasa Sundapun, saya tidak bisa.
Tapi ya begitulah, namanya juga berjuang. Manusia selalu dituntut untuk memperjuangkan hidupnya, padahal, sebagai manusia, saya merasa tak pernah memaksa Tuhan untuk melahirkan saya ke dunia melalui ibu, dan tentunya untuk hidup, sehingga membuat saya menjadi memerhatikan manusia-manusia yang entah mengapa dilahirkan dengan takdir berinisial A. sehingga, saya yang juga memiliki inisial A, menjadi sangat suka dengan huruf A, dan membuat saya berobsesi memberikan anak-anak saya nama dengan diawali huruf A, misalnya, Anggra, Aluno, Ariona.. A... a... apa lagi ya? hahaha. kepikiran sampai sana. Tidak juga, sih, saya juga berhasrat memberi nama anak saya, Garuda Indonesia, kalau lelaki, atau Bendera Merahputih, kalau perempuan. Kata teman-teman saya, saya tega, tapi ya bagaimana, saya cinta Indonesia sekali, aselinya! :D

Terlalu asik berimajinasi sehingga membuat tulisan ini sedikit melebar, jadi marilah kembali lagi kepada topik utamanya, Bahasa Inggris.

Mempelajari bahasa Inggris dimulai ketika saya berusia sembilan tahun, atau itu berarti kelas empat SD. saya ingat sekali guru bahasa Inggris pertama saya, yaitu adalah ibu guru yang sebenarnya saya lupa namanya, tapi saya ingat wajahnya. Rambutnya mengembang, ala rambut jadul, kacamata dibawah mata, tinggi, putih, dan baik. Saat mengajarkan bahasa Inggrisnya "terima kasih", dia sebut "tsengzs" bukan "thanks" karena cara bacanya lidah harus di gigi, dan tentunya harus sampai muncrat ludahnya. Saya sih mau-mau saja, wong saya dulu masih kecil dan belum tau apa-apa. Guru bahasa inggris selanjutnya saya lupa apakah ada yang lain atau bagaiman, tapi yang saya ingat adalah ini, Pak Somadin. Guru bahasa Inggris asal jawa yang medok e (baca : ala logat jawa) bukan main. 

Selanjutnya, naik ke tingkat SLTP, saya bertemu dengan Ibu Lies, seorang guru yang ternyata adalah teman tante saya. Tiap guru memiliki ciri khasnya masing-masing bukan? ya, Ibu guru yg satu ini suka sekali bilang "ssssttttt!!" sambil menunjukan telunjuknya menandakan perintah untuk diam, tapi anehnya, dia melalukan ini sesering mungkin, terkadang, ketika suasana heningpun, dia juga begitu, mungkin itu dilakukannya tanpa sadar, sehingga kami menyebutnya Mrs.Sssst. hehe. Tapi dia adalah guru yang baik, saya dulu cukup dekat dengannya, pernah kali waktu diajak kerumahnya untuk belajar #Bahasa Inggris.
Dikelas dua, saya lupa saya bertemu dengan siapa, benar-benar lupa! namun dikelas tiga, giliran saya belajar bahasa Inggris dengan Pak Karna, guru terpendiam yang pernah mengajar. Sangat stay cool dengan rambutnya yang ubanan dan nyaris botak. Pak Karna adalah guru yang hobinya mengajar sambil duduk di kursinya. Hanya sesekali dia berdiri, itupun kalau dia memulai untuk menulis dipapan tulis. Pernah suatu saat dihari terakhirnya mengajar, karena harus pensiun, dia mengakhiri jam pelajaran dengan memanyunkan mulutnya ditambah melambai-lambaikan tangan berrti salam perpisahan, dan takjub, semua warga kelas menertawainya, salut karena akhirnya beliau bisa bercanda bersama kami. 

Belajar bahasa Inggri tidak pernah berhenti, di tingkat SMA, sewktu kelas sepuluh, saya diajar bahasa Inggris oleh Ibu guru yang sudah cukup tua keliatannya, sebenarnya cara mengajarnya enak, tapi celetukannya seringkali membuat sakit hati. pernah suatu kali dia memarahi saya karena saya menjawab pertanyaan yang diberikannya untuk orang lain, dan dia bilang gini : "Dasar sok pinter!" waadduuuh, saya sakit hati benar dibilang gitu, sehingga membuat saya berjanji enggan menjawab pertanyaan-pertanyaannya lagi. hufftt#
Saya, kembali lupa siapa guru bahasa inggris dikelas sebelas, atau setingkat dengan kelas dua. Benar-benar lupa, saya berusaha mengingatnya, tapi tak menemukan sewajahpun yang pants menjadi guru bahasa Inggris kelas dua di imajinasi saya sekarang. 
Selanjutnya dikelas tiga, atau setingkat dengan kelas dua belas, saya diajar oleh Mrs. Tini. Ini guru lain lagi cara mengajarnya. Enak sekali diajar oleh beliau, tulisan di buku jadi rapih, dan saya mengerti banyak karena beliau sukses mengajar dengan sistematis. Sifatnya yang mudah cair dan mudah beku ini memang selalu menakjubkan, dia akrab dengan murid-muridnya, dan buat saya, guru yang akrab dengan muridnya adalah guru yang berhasil. 

Nah, itu saya sudah belajar bahasa Inggris selama sembilan tahun, tapi saya masih tidak bisa bahasa Inggris dengan lancar juga sampai sekarang, padahal sudah ditambah setahun di tingkat kuliah, juga masih belum lancar. Tapi ya begitulah, karena fitrah manusia itu adalah berjuang, maka saya akan terus berjuang agar bisa fasih berbahasa Inggris.
Selain karena tuntutan, saya juga ingin bisa bahasa Inggris supaya bisa mewawancarai Cesc Fabregas, bisa dapat mandat bawain acara traveling keliling dunia disalah satu stasiun TV, dan tentunya agar saya bisa mengajari anak saya bahasa dunia ini, supaya tidak serba susah seperti saya dimasa-masa sekolah, dengan nilai bahasa inggris yang naik turun. 
Sekarang, bahsa Inggris saya sudah mendingan, setidaknya, saya bisa berbahasa inggris secara tertulis.
Saya harus belajar terus, kalaupun tempat les sekarang mahal, sekarang kan sudah ada TV yang menyiarkan acara berbahasa Inggris, ada internet yang banyak bahasa Inggrisnya, dan tentunya ada Google translate, dan ada aplikasi kamus Indonesia-Inggris, Inggris-Indonesia di HP saya, jadi belajar bahasa Inggris, seharusnya menjadi lebih mudah. satu-satunya hambatan adalah, teman-teman yang lain yang pintar bahasa Inggris berikut juga saya, malu menggunakannya sebagai bahan latihan praktik.

Nah, begitulah isi postingan kali ini. 
Sebenarnya, tujuan awal saya adalah mengisi tenses-tenses di "Belajar bahasa Inggris" ini, tapi karena ternyata buku kunci Inggris saya yang mungil dan tipis itu hilang, saya jadi memadamkan keinginan saya tersebut.
Cerita begini cukup, 

So, lets learn english more, Vika! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar