Sabtu, 16 April 2011

Menunggu Dzuhur di Kolong Al Asyari


Mungkin bukan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di salah satu sudut kampus biru Unisba ini, sehingga sebenarnya bukan hal yang aneh bagi saya melihat pemandangan lalu lalang manusia yg mayoritas adalah kaum Hawa. Hanya saja pemandangan ini memang selalu membuat saya tertarik. Ya, disinilah tempat dimana sebagian mahasiswi menghabiskan waktu mereka yang kosong, biarpun hanya untuk sekedar duduk – duduk. Menaiki anak tangga pertama menuju kolong mesjid ini saya segera merasa disejuki. Mungkin itu dikarenakan hempasan angin yang lembut, apalagi tempat ini juga tidak tersorot cahaya matahari secara langsung, sehingga cukup nyaman berada disini ditengah cuaca siang kota Bandung yang sedang ekstrim. Berbeda dengan suasana tempat ini pagi tadi yang terasa sangat lembab dikarenakan tepat disamping tempat ini adalah sebuah ruang berwudhu.

Inilah kolong masjid itu, suatu ruang terbuka dengan lantai merah tua dibawah tangga menuju tempat Sholat bagi akhwat. Menurut saya, tempat ini cukup aneh bentuknya, selain karena tempatnya adalah tempat duduk – duduk lesehan, arsitektur bangunan dibawah masjid ini bergaya simple, terbuka, dan agak bermakna teka teki. Dan seperti biasanya, saya lagi – lagi menemukan sekelompok mahasiswi dengan pakaian yang sopan sedang dalam gelombang obrolan yang hangat. Disampingnya adalah seorang wanita berjilbab dengan tumpukan makalah – makalah disebelah kirinya dan tangannya yang sibuk memijit keybord laptop. Keadaan seperti ini sering saya lihat sebelumnya, dan saya yakin ini adalah karena suasana sejuknya. Dan ternyata benar saja, Nabila (19), seorang mahasiswi Fikom Unisba yang sedang asik hotspotan mengaku bahwa ia sering duduk – duduk disini biarpun hanya sekedar hotspotan. “saya suka disini karena tempatnya adem sih, lagian sambil nunggu waktu dzuhur jadi meningan disini deh, lagian bisa sekalian ngeceng – ngeceng, hehe” terangnya sambil tertawa. Nabila juga menambahkan bahwa selain menunggu waktu dzuhur, dia juga suka memperhatikan orang – orang yang sedang asyik berebutan air wudhu. Memang benar, saat adzan Dzuhur berkumandang di mesjid ini, suasana Islami terasa sangat kental karena ruang berwudhu seketika jadi penuh sesak, begitupun dengan dibawah tangga mesjid ini.
Selain karena hawa sejuk dan ramainya tempat ini ketika siang hari, pemandangan lainnya yang paling sering terlihat ketika menghabiskan waktu disini adalah lalu lalang para Mahasiswi dengan jilbab yang menutup badan mereka hingga pinggang. Mereka diketahui masuk dan keluar dari sebuah ruangan lain lagi diujung kolong masjid, yang diketahui adalah kantor sekretariat Bompai, salah satu UKM di Unisba yang kegiatannya adalah mengatur Mentoring dan segala kegiatan keislaman di Unisba.
Ya, beginilah suasana siang di kolong mesjid ini ketika waktu dzuhur. Mungkin suatu saat seiring berjalannya waktu, tempat ini akan berubah. Entah apa yang akan ada di kolong mesjid ini dan tak tahu akan seperti apa ruangan ini nantinya dibentuk, yang pasti saya berharap mesjid ini tetap kokoh pada tempatnya biarpun ruangan sejuk yang berada dibawahnya suatu saat hilang. Karena mesjid inilah satu – satunya tempat di Unisba yang dapat memberikan panggilan kepada para jiwa Islam agar berkumpul untuk menunaikan sholat berjamaah dan memberikan pemandangan dan suasana Islam yang kental dan sejuk.
n m� v r k ��! ��% angan dan suasana Islam yang kental dan sejuk. ya� � e u ��! ��% seseorang untuk menciptakan atau mengubah informasi yang ditangkap melalui inderanya untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi sudut pandangnya. Bermanfaat baginya atau tidak, tergantung pada bagaimana hal ini diterapkan dalam kesehariannya. Jadi dengan begitu, setiap individu dituntut untuk memilki kecakapan dalam berhadapan dan mengonsumsi media.

Dengan cerdas bermedia, maka kitapun akan cerdas dalam berkomunikasi dan itu akan menjadikan kualitas manusia suatu negara menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar