Rabu, 23 Maret 2011

Sepucuk Calon Surat

“aku sudah keriput, kulitku sudah memelar, garis umur didahiku semakin membuatku terlihat renta, mataku semakin sayu, tidak lagi bersinar seperti 37 tahun yang lalu,  bibirku semakin layu, aku sudah tidak segar, tidak bisa berdiri lagi, senyumku pun hanya sebatas tertarik sedikit, aku tidak bisa berpikir banyak lagi, yang aku bisa lakukan adalah hanya memandangmu yang terlihat semakin gagah, masih tampan seperti pertama kali bertemu dulu, kau yang sekarang bahkan lebih bijak dan hebat dimataku, senyumanmu tak pernah berhenti dan tanganmu semakin kuat, kau bisa meraih banyak wnita yang kau mau dengan ketampananmu yang seperti nabi yusuf itu, kau bisa merayu banyak wanita dan menggandeng tangan mana yang kau pilih hanya karena sifatmu yang selalu membuat aku semakin jatuh cinta, belum lagi kau seperti malaikat dari Tuhan yang tercipta untuk mengawal wanitanya ke surga, ditambah perhiasanmu yang banyak, hartamu yang berlimpah, aku sungguh beruntung, dan aku adalah wanita paling beruntung di dunia karena semakin kau menua, kau baru saja bilang, kalau kau semakin mencintai aku padahal aku hampir saja menutup mata untuk selamanya. Kau memang jodohku yang dipilih Tuhan. Aku bukan ornag yang baik, tetapi adalah orang yang beruntung karena bisa memelukmu selama ini disaat tidur, disaat pagi, dan mencumbumu dengan mesra disaat kau lelah, aku beruntung sekali karena tak pernah rasanya sekalipun kau pergi menuju ke pusaran lain, kau tetap disini menungguku optimis aku bisa menciummu lagi, tapi kali ini aku tidak. Aku sangat ingin bilang tapi aku tidak bisa, kalau aku beruntung bersuamikan lelaki sepertimu, wahai adam”

Ini untuknya, seorang suami selama 32 tahun, lelaki yang menemaniku selama 37 tahun, membantuku merawat anak-anak selama 31 tahun, memelukku tiap malam selama 11680 malam, menciumku setiap pertemuan, dan mengasihiku selama waktu sisa pemberian Tuhan.

Untuk suamiku tercinta, atas apa yang tidak bisa aku utarakan. Aku menulisnya untukmu agar kau tau, aku mencintaimu karena atas izin Tuhan. Insya Allah..
Terimakasih untuk semuanya.

Seandainya aku boleh memohon untuk terakhir kalinya,
Kau mau kan menjadi pendampingku lagi di Surga? Seandainya kau tidak berkeberatan, aku janji aku tak akan pernah lagi meninggalkanmu dan anak cucu kita :’) theres so much love for you, I Love You.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar