Senin, 07 Februari 2011

Surat untuk Ibu dan Ayah

Annisa Vikasari, 
Bandung, 7 Februari 2011.

untuk Ibu dan Ayah 
melalui Tuhan.

Umurku baru saja 19 tahun,
tapi 19 tahun sudah terlalu sering merepotkan kalian.
bahkan hampir selama aku hidup, tak ada sedetikpun aku biarkan kalian tidur dengan tenang.
Aku tak pernah lupa mengeluh jikalau kalian salah,
tak pernah lupa menggerutu jikalau kalian menyuruh, atau selalu mengabaikan semua nasihat yang kalian titipkan padaku sebagai petunjuk kehidupan.
Aku sudah cukup terlalu sering membiarkan kalian kalut dalam kemarahan, dan tetap egois karena aku selalu masih juga merasa benar sendiri. Aku selalu berpikir, bahwa ini adalah hidupku, akulah yang tahu yang terbaik yang mana, tanpa perlu mempertimbangkan pendapat kalian, karena tentu aku yang menjalani ini semua, bukan kalian.
Bahkan, rasanya semakin besar umurku, aku menjadi semakin jauh pula dengan kalian. Aku merasa sudah dewasa, begitupun dengan kalian yang sudah menganggapku dewasa, sehingga aku sering merasa bahwa kalian terlalu ketuaan untuk memikirkan hal-hal yang terjadi di jaman sekarang.
Aku seringkali tak sadar, betapa kalian pasti juga sering mengeluh tentang kelakuanku. 
biarpun aku yakin, cara kalian mengeluh itu adalah pertanda kalian memang sudah tidak mengenal aku lagi yang semakin menjauh dari tata cara hidup kalian yang selalu aku anggap kuno itu.

Tapi Ibu dan Ayah, 
apapun yang aku lakukan, diluar dari semua perbuatan acuhku,
jujur dari hati yang terdalam, kalian lah cinta sejati yang Tuhan rahmatkan kepadaku.
entah apakah aku menginginkan kehidupan ini melalui kalian ataupun tidak, tapi kalian adalah cinta pertamaku.

Aku bukan seorang pujangga, atau penulis dengan seribu bahasa yang indah dan mengharukan.
Aku adalah seorang penulis biasa yang ingin menjadi luar biasa, untuk Ibu dan Ayah, dan Aku.
Aku sayang kalian,
aku terharu karena ayah pernah bilang, "Papa cuma minta, tolonglah untuk mengurangi rasa was-was orang tua dengan tidak pulang malam" , kau tau Ayah, kata-kata itu tidak pernah aku pikirkan sebelumnya, yaitu sewaktu kau terus-menerus menahanku keluar malam untuk bermain bersama teman-teman. 
Ayah, biarpun kita tidak sedekat seperti antara aku dan Ibu,
tapi aku juga mencintaimu setara dengan rasa cintaku terhadap Ibu.
Jika aku tidak pernah meluapkan rasa cintaku kepadamu secara langsung, itu terlebih karena aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya.

Aku menyayangi Ibu dan Ayah.
dan melalui Tuhan,
aku menitipkan tumpahan perasaanku untuk mereka yang aku rindukan.
bahwa aku mencintai mereka berdua,
mereka bugar ataupun renta, modern ataupun kuno, cerdas ataupun bodoh.
Tak ada seorangpun di dunia ini yang mampu menggantikan sosok mereka yang menakjubkan itu.

Kau tau Ibu, Ayah,
akhir-akhir ini sering sekali aku merindukan obrolan kita bertiga di ruang televisi ketika aku berada di kampus, seolah aku sedang kehilangan kalian. Aku merindukan pertemuan kita bertiga ketika makan malam saat aku berada ditengah-tengah kesibukan kampus dan organisasi, bahkan pernah sekali hingga aku menangis, padahal kita baru saja bertemu tadi pagi.

Ibu dan Ayah.
Sekarang aku masih 19 tahun. Dan sudah panjang keinginan-keinginganku untuk membalas kalian. 
Jikalau Tuhan mengikhlaskan,
aku ingin membawa kalian, kita bertiga saja, menuju ke kota Barcelona di Spanyol, atau kemanapun tempat dimana kita bertiga bisa melepas rindu.
Aku sekarang sedang merajut masa depan dengan keras, aku dulu pernah melawan kalian untuk bergelut di dunia ini, sehingga aku wajib memberikan hasil untuk kalian berdua. setidaknya, membuat senyuman lebar di wajah kalian karena aku.

Aku sayang Ibu dan Ayah, kalian berdua. I love you always more.. and always need you more.

Father and Me

Mother and Me

this is my dream, dream will come true
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar