Sabtu, 05 Februari 2011

mengapa Jurnalistik?

J U R N A L I S T I K

Entah mengapa, jika melihat rangkaian huruf-huruf tersebut saya berpikir bahwa itu keren. Ada perasaan seperti takjub kalo baca itu kata. Rangkaian itu menjadi rangkaian huruf ke-5 yang menakjubkan buat saya, setelah ke-1 adalah TUHAN,  ke-2 adalah IBU & AYAH, ke-3 adalah MENIKAH & BERKELUARGA , dan yang ke-4 adalah BARCELONA & UKI  PETERPAN.
Ya, Jurnalistik adalah ilmu memang, tapi dia lebih tepat disandingkan dengan oposisi dunia.
Saya memang baru saja mengenal Jurnalistik, baru saja dua semester, namun rasanya sudah klop saya dengan dunia yang ini. Mungkin juga diakibatkan saya sudah mencium bau kerennya semenjak saya kelas tiga SMP.


Begini, sebelumnya saya akan jelaskan sesuai pengetahuan yang saya punya mengenai apa itu Jurnalistik.(kembali membuka catatan mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik yang ada di semester 2, sekaligus mereview tugas UAS karya tulis Dasar Penulisan di semester 3). 
Secara etimologi, Jurnalistik itu berasal dari kata Journ dari bahasa Perancis yang berarti catatan atau laporan harian. Dengan kata lain, jurnalistik adalah pencatatan atau pelaporan setiap hari.
Menurut Adinegoro, jurnalistik adalah semacam kepandaian mengarang yang pokoknya memberi pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya dan seluas-luasnya. Atau, secara teknis, jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya (Sumadiria, 2008:2). 


Lalu suralu, apa perbedaan Jurnalisti dengan Pers? apakah mereka sama? Jurnalistik dan pers adalah dua hal yang berbeda. Jurnalistik cenderung mengacu pada kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan sebuah berita, yakni untuk mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menyebarkan berita. Sedangkan Pers, merujuk pada lembaga yang memberikan dan melaksanakan kegiatan jurnalistik.
Namun demikian, Jurnalistik dan Pers adalah dua hal yang menakjubkan.
Nah, lalu mengapa saya sangat merasa takjub membaca kata jurnalistik?
Mungkin dikarenakan saya memang sudah bercita-cita untuk terjun ke dunia ini semenjak 7 tahun yang lalu, ditambah perjuangan saya untuk sampai di Jurusan Jurnalistik itu cukup sulit dan berat. Bayangkan, saya harus melawan orang tua saya terlebih dahulu karena mereka lebih prefer saya masuk informatika. Saya harus dipundungin Mama dan Papa waktu tetap memutuskan memilih Fikom pada tes masuk Unisba. Bahkan saya memperjuangkannya sampai menangis. huhuhu
Namun Alhamdulillah Tuhan mendukung, wkwkw
jadilah saya ikut tes nya, dan alhamdulillah keterima biarpun swasta, haha (sakit hati sebenernya dapetnya swasta, tapi saya tau sekarang mengapa, karena Tuhan ingin mempertemukan saya dengan cinta kasih, agama, dan dunia lain di akuarium)
Saya memang berjuang benar-benar untuk bisa menjajah ilmu Jurnalistik di semester ke-3. Betapa tidak? awal-awal menjadi mahasiswa Fikom saya cukup merasa tidak menjadi diri saya sendiri. Banyak hal yang saya simpan sendiri mengenai ketidaknyamanan berada di kampus, bahkan menjadi orang yang (PD) terlalu baik karena di minta anter kesana kesini, saya selalu ada. 
Dulu, saya pernah kesal karena mendengar teman saya bilang kepada teman yang lainnya, "tuh minta anter ke si vika pasti mau" Itu memang bagus, karena berarti saya baik, tapi saya malah berasa jadi babu.
Semester 1 paling menyebalkan karena kerjaan saya hanya kuliah pulang kuliah pulang, untunglah ada PPMB (semacam ospek),  sehingga saya bisa bersamaan dengan teman-teman saya dikelompok Harold Laswell dan bisa dengan hati riang menyumbangkan waktu istirahat saya untuk mengobrol saya walau hanya sekedar nongkrong di kampus.
Namun, tetaplah itu menyebalkan.
Ditambah teman-teman terdekat tidak ada yang berniat masuk Jurnalistik, kecuali si Icha. apalagi menyebalkannya adalah teman-teman saya suka sekali mengejek jurusan Jurnalistik, entah dari cara berpakaian ala Jurnal yang keren, sampai tumpukan tugas Jurnal yang mengasikkan. 
Obsesi terbesar saya adalah bisa mengunjungi kota Barcelona di Spanyol dan bahkan berkeliling dunia, sehingga saya berpikir, bahwa jalan yang paling keren untuk bisa menggiring saya ke sana adalah dengan menjadi Jurnalis. 
Teman-teman tidak mendukung 100% mereka lebih banyak mengejek Jurnalistik. Namun, cita-cita adalah tetap cita-cita, semakin mereka ngejelekin Jurnalistik, saya semakin terangsang untuk bisa segera memasuki dunia gelap itu.


Finally, dukungan Tuhan tetaplah menjadi dukungan terbesar. Setelah pada akhirnya Tuhan memaksa orang tua saya untuk setuju, kini saya bisa merasa senang karena merasa di banggai oleh Ibu dan Ayah. Mereka sering sekali, sekarang, memperkenalkan saya sebagai calon Jurnalis. Bisa kau bayangkan seberapa senangnya saya? Ya, saya bahkan senang sekali. tidak ada terlewat cerita mengenai dunia jurnalistik yang sedang saya jelajahi ini kepada mereka hanya sekedar supaya mereka tau betapa keren dan menariknya dunia jurnalistik ini.
Sekarang, saya semakin bertambah senang. Banyak hal terlalu amazing yang saya dapatkan dari Jurnalistik meskipun saya baru saja menjajakinya sekitar satu semester, namun satu semester ini saja sudah banyak sekali memberi keberuntungan buat saya. Saya yakin, semester berikutnya biarpun pasti berat, dan pasti dapat saya taklukan lagi, pastilah tetap menyenangkan. Selain membuat Film, membuat Majalah dan pengalaman liputan luar biasa pernah saya dapatkan, seperti saat mewawancara pedagang Cabe, Uki peterpan, hingga Dede Yusuf, adalah lingkungan yang keras namun hangat, KMJ.
Saya sih berharap, bukan hanya waktu-waktu ini yang menyenangkan, tapi juga waktu-waktu selanjutnya hingga saya benar-benar menjadi Jurnalis Travelling.
Saya yakin, fokus saya kepada cita-cita, adanya dukungan Orang tua, dan lingkungan yang juga jurnalistik banget,  Tuhan pasti mendengar, dan mau mengabulkan. 
Saya punya cita-cita, lalu bagaimana denganmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar